Tuesday, March 4, 2008

+Senja Para Nelayan+

Pinggiran pantai ini tak membuatku jemu. Selain aku suka sekali dengan udaranya, aku begitu keranjingan akan laut. Entah kanapa setiap kali aku duduk di bawah gubuk nelayan ini aku merasakan ada kekuatan yang tidak dapat aku katakan. Semacam rasa ingin selalu kembali dan kembali. Orang tuaku dulu yang selalu mengajakku kesini pada musim liburan sekolah tiba, aku diajarkan banyak tentang alat-alat yang dipakai para nelayan. Tentang bagaimana caranya melempar sauh, sampai bagaimana menurunkan jangkar dan kemudian menggulungnya ketika perahu akan berhenti dan berangkat kembali. Tidak hanya itu bapakku juga sering banyak bercerita tentang nelayan yang pergi di waktu senja. Katanya pekerjaan nelayan itu tidak mudah, bukan hanya keberanian tapi ia juga harus pandai-pandai melihat gejala alam, dari arah mata angin yang bertiup sampai pada ilmu perbintanganpun ia harus mengerti, itu membantu dalam pencarian ikan kelak, katanya.

Bapakku juga yang mengajarkan bagaimana agar aku dapat menikmati laut, sampai seperti sekarang aku begitu suka sekali laut. Katanya laut membuat orang mengerti akan arti sebuah kebesaran. Di hadapan laut manusia bukan apa-apa, kita hanya seonggok kecil belaka dan itu yang akhirnya aku sangat senang berlama-lama di laut. Aku belajar banyak dari deburan air laut yang menghantam karang, ada banyak makna yang dapat diambil dari laut. Bukan hanya kekonsistenan tetapi juga sebuah ketulusan untuk terus melakukan sebuah pembebasan, pembebasan terhadap keadaan.

Pernah sesekali bapak juga mengajaku pergi ke tengah laut mengikuti para nelayan itu mencari ikan. Walaupun ibu sangat melarang, tapi bapak bersikeras untuk tetap mengajakku pergi bersama nelayan-nelayan itu. Katanya kita adalah keturunan orang-orang laut, yang harus mengenal tempatnya, makanya sedari kecil seharusnya kita sudah diajarkan bagaimana pergi ke laut. Itu pertama kalinya aku diajarkan oleh bapak tentang keberanian, aku ingat sekali waktu itu aku baru mau menginjak kelas enam Sekolah Dasar. Agar aku kelak menjadi seorang laki-laki yang tidak pengecut, kata bapak juga aku adalah seorang laki-laki yang keturunan dari laut, yang harus mempunyai keberanain lebih dari orang-orang pada umumnya.

Senja sudah mulai kian memerah, sebentar lagi malam akan segera menggantikan. Aku masih duduk di bawah gubuk nelayan. Anak-anak nelayan menyapa mengajakku untuk segera pulang. Mereka anak-anak nelayan yang patuh, yang selalu mengantarkan kepergian bapaknya, sebentar lagi mereka akan menemani bapaknya pergi nelayan, kemudian kelak akan menggantikan profesi bapaknya sebagai pelaut. Anak-anak itu tumbuh begitu kekar dan pemberani, mereka banyak diajarkan tentang kejujuran oleh laut bahwa laut tidak pernah berbohong. Anak-anak itu juga yang selalu setia terhadap laut, mereka tidak pernah mengeluh terhadap keberadaanya. Malahan mereka sangat antusias sekali dengan keberadaan yang sekarang, mereka begitu berharap kalau besar kelak akan menjadi pelaut yang handal, pelaut yang pergi di sore hari dan pulang pagi dengan membawa tangkapan-tangkapan yang memuaskan.

Sudah berpuluh-puluh tahun penduduk di daerah pesisir pantai ini sangat menggantungkan sebagian kehidupannya terhadap laut, dari semenjak aku kecil dulu sampai aku sebesar ini, penduduk desa ini masih saja tetap setia untuk tetap kembali mencari ikan. Entah bagaimana ceritanya, yang aku tahu sudah semenjak lama sebelum aku lahir. Suara seorang nenek menghentakkan lamunanku. Nenek itu menyapa dengan bahasa daerah, disini menggunakan bahasa campuran antara Sunda dan Jawa. Dan nenek itu berbicara mendekatiku, logatnya yang kental dan pelan, ia mengajakku untuk segera pulang, tidak baik melamun sendiri di tepi pantai apalagi untuk anak muda semacam aku ini katanya. Nenek tua itu membawa beberapa ikat kayu bakar. Aku mengikutinya pulang, sebenarnya aku masih tidak ingin pulang tapi karena nenek itu aku jadi mau diajak pulang. Aku masih punya rumah bekas peninggalan bapakku dulu di desa ini. Malam ini aku ingin sekali menginap disana. Aku ingin sekali menikmati malamnya di desa pinggiran pantai.

Esoknya aku baru pulang, satu jam perjalanan dari desa itu untuk sampai ke kota. Sesampainya di rumah sudah ada dua orang menunggu kedatanganku. Mereka sudah menungguku rupanya. Setelah berjabat tangan dengan sedikit basa-basi menanyakan kabarku, ia menanyakan bagaimana dengan desa itu. Ia menanyakan banyak tentang surat-surat sampai masalah perijinan dan sebagainya sampai pada akhirnya aku hanya mengatakan, aku masih begitu lelah dan ingin sekali beristirahat sejenak. Dan dua orang itupun segera pergi dengan rasa puas penuh kemenangan.


Pantai Anyar, 26 Desember 2003

­-HF-


***

No comments: