Tuesday, March 4, 2008

"Tentala-tentala Ciptaan Tu`an…"

Negara ini terbentuk tidak tanpa tentara. Pasti dengan tentara. Itu realitas karena bagaimanapun juga para tentaralah yang banyak berperan dalam mempertahankan maupun memperjuangankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi bukan berarti masyarakat sipil tidak banyak berperan. Terlepas dari perdebatan tentara dan sipil, beberapa waktu yang lalu di negeri yang bernama Indonesia sedang mengadakan perheletan akbar, yakni pemilihan umum untuk menentukan siapa presiden dan wakilnya yang akan menjadi pemimpin negara. Katanya untuk menjalankan proses demokratisasi dimana setiap orang berhak untuk menentukan bakal calon presiden dan wakilnya itu.

Rakyat sebenarnya biasa saja menanggapi pemilihan presiden ini, karena rakyat sadar dalam hal ini ia tidak merasa banyak di untungkan. Ada yang lebih penting dari pada pemilihan presiden, rakyat lebih baik berfikir bagaimana agar mendapatkan makan hari ini. Toh sebenarnya rakyat tidak banyak terpengaruh dengan apa dan siapa presidennya, empat kali mengalami pergantian presiden ternyata rakyat masih juga di bohongi, rakyat masih juga miskin, pendidikan mahal, “walah kalau mau di bicarakan disini semuanya, pasti ndak cukup”.

Bisa jadi pemilihan umum kali ini merupakan ajangnya para tentara untuk bermanuver, yah itung-itung latihan bersama, plus reunian lah. Karena mereka yang mencalonkan sebagai presiden dan wakil presiden ini kan sebagian ada dari kalangan eks tentara. Sekaligus ajang unjuk kebolehan untuk para mantan jendral itu beradu strategi di mimbar terbuka.

Tapi kali ini posisi mereka sedikit sulit, karena mereka yang biasanya gagah dengan membawa senjata berwajah garang (bait lagunya iwan fals) kini tidak lagi. Padahal salah satu kebanggaan para tentara itukan bisa bawa senjata kemana-mana. Tentara yang dulu berlomba-lomba memoles penampilannya seseram mungkin biar kelihatan garang sekarang berbanding terbalik. Bahkan katanya sekarang “tentara lebih baik daripada ulama, dan lebih kiai daripada kiainya sendiri”. Lah ini bagaimana nanti kalau fungsi dan peranan mereka diambil alih oleh tentara? Bagaimana misalnya lulusan podok pesantren, kalau saja tentara lebih terpakai lulusannya dari lulusan pondok pesantren?, ya pikirkan saja sendiri, lah wong saya juga bingung kok.

Keponakan ku yang masih cedal, belum bisa menyebutkan huruf “R” ia pernah bernyanyi di acara ulang tahunnya, yang dihadiri oleh banyak tentara. Lantaran bapaknya juga seorang tentara. Ia menyanyikan lagu pelangi-pelangi dengan bait terakhirnya diganti atas suruhan orang tuanya, hanya akhirnya saja “pelangi-pelangi ciptaan tuhan” menjadi “tentala-tentala ciptaan tu`an”. Walaupun bait yang terakhir sebenarnya memiliki konotasi yang berbeda, karena dinyanyikan dengan menghilangkan huruf “H”, Tuhan menajadi Tu`an, tentunya keponakanku menyanyikannya dengan pernafasan yang tersengal-sengal. Tetapi kontan saja para undangan ramai tertawa mendengarnya lucu. Padahal kalau saja yang menyanyikannya orang yang sudah besar, pasti dijegal. Yah setidaknya tidak akan ditertawakan. Apalagi kalau dinyanyikan oleh mahasiswa yang sedang berdemonstrasi.

Melihat konotasi dari “tentala-tentala ciptaan Tu`an” adalah sebuah fenomena mengenai keberadaan para petinggi Negara ini bahwa apapun kebijakan yang diciptakan oleh para birokrat maupun petinggi negara itu berdasarkan kepentingan kelompoknya saja, termasuk juga tentara. Mana ada tentara yang melakukan tindakan represif terhadap tuan-tuannya sendiri. Yang ada adalah “dor…dor…dor…” timbullah peristiwa 12 Mei, “dor…dor…dor…” timbullah Tanjung Periok berdarah, “dor…dor…dor…” timbullah yang lainya dan yang lainnya. [hf]

Paris van Java, 2002

-HF-

No comments: