Tuesday, March 4, 2008

-Dialog Si Pino-

“Ibuuuu”, teriak anak kecil dengan tangan menunjuk ke depan,

“Ada apa?” sang ibu menyahuti datar…

“Lihat orang itu, kenapa orang itu? orang itu hidungnya seperti pinokio”

Sontak sang ibu cemas dengan perkataan anaknya, “huss, kamu jangan berkata begitu”
tapi anaknya masih saja bertanya

“Tapi ibu, katanya orang yang hidungnya bulat panjang seperti pinokio dia orang yang suka berbohong”

“Sudah kamu jangan rewel, entar ibu kasih tahu dirumah”

“Ih, lihat ibu, orang itu bukan hanya hidungnya yang panjang, tapi perutnya juga gendut, seperti badut yang banyak di korsel-korsel”

Sang ibu celingukan memastikan bahwa yang telah dibicarakan anaknya tidak ada yang mendengarkan

“Ibu-ibu…, ibu harus janji kalau nanti sudah sampai rumah ibu harus menceritakan tentang orang itu”

Sang ibu sudah tidak tahan dengan kerewelan anaknya, kemudian ditariknya tangan si anak meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan anak itu masih tetap terus cerewet menanyakan orang yang hidungnya panjang.

“Iya nanti dirumah ibu ceritakan” sang ibu menenangkan

“Iya tapi kenapa mesti di rumah, kan sambil jalan aja ibu bisa bercerita”

“Sudah kalau kamu nakal ibu tidak akan mengajakmu lagi” si ibu mulai berang dengan pertanyaan anaknya yang masih juga menanyakan orang yang hidungnya panjang.

Anak kecil itu kontan saja terdiam, di raut mukanya terlihat ia begitu kecewa sekali dengan ibunya. tapi anak kecil itu tidak putus asa, malahan ia ingin sekali cepat-cepat sampai rumah, ia ingin menanyakannya dirumah sesuai janji ibunya di jalan tadi.

Sampai rumah sang ibu menepati janjinya. “Setelah ibu ceritakan kamu harus tidur yah?”, ujar sang ibu. Kemudian sang ibu menceritakannya banyak sekali. Sang ibu bercerita bahwa orang yang tadi ketemu di jalan itu, ia dulu seorang yang sangat hebat dan kaya sekali, ia seorang pemimpin di negeri ini, kekayaannya sangat bertumpuk. Semua orang mengenalnya, semua orang patuh padanya. Saking banyak kekayaannya sampai ia lupa kalau hampir setengah dari negeri ini ia yang punya. Bukan hanya kekayaannya yang begitu banyak, tetapi ia juga memiliki kekuasaan yang sangat berpengaruh.

Di mata masyarakat orang itu baik sekali, ia sungguh dermawan tidak sedikit ia memberikan sumbangan-sumbangan, untuk jalan, masjid dan tempat-tempat peribadatan, dan santunan-santunan anak-anak yatim. Perangainya juga tidak sombong, suka senyum kalau bertemu orang banyak, apalagi kalau di sorot oleh media, ia begitu kelihatan bersahaja dan berwibawa, pembawaannya tenang sekali.

Tapi suatu ketika ia tersandung permasalahan, ia diketahui menggelapkan uang banyak sekali. Uang itu milik negara, tapi ia pakai untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya. Ia sempat di adili tapi pengadilan membebaskannya.

“Berarti dia tidak bersalah dong bu” Tanya anaknya menyela,

“Iya itu kan menurut pengadilan”

“Tapi ibu, bukannya memang pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memutuskan orang bersalah atau tidak”, anaknya bingung dengan perkataan ibunya yang terakhir.

“Dia kan orang kaya, dan banyak pengikutnya. Pengikutnya, yah termasuk orang-orang di pengadilan itu”

“Tapi bu, dia kan juga orang baik, suka memberikan sumbangan” anaknya masih tidak percaya,

“Tapi orang itu mulutnya bauuuu sekali, kalau ngomong pasti berbohong, termasuk juga kalau ia memberi. Makanya orang itu hidungnya panjang dan perutnya buncit”

“Lagian kalau orang itu baik, mana ada rakyat yang miskin. Dia kan seorang pemimpin, seharusnya seorang pemimpin kalau dirinya kaya rakyatnya juga harus ikutan kaya. Begitu juga sebaliknya, kalau rakyatnya miskin pemimpinnya tidak boleh memperkaya diri” sang ibu menambahkan.

“Iya juga bu yah, kalau rakyatnya makmur dan kaya-kaya kan secara otomatis juga pemimpinnya akan kaya”

“Biar bu, kalau nanti bertemu orang itu lagi, selagi ia bicara aku akan kentut secara diam-diam”

“Huss, kamu jangan macam-macam dengan orang itu”

“Biar dia tahu kalau mulutnya bau seperti kentut yang keluar dari pantat” ujar si anak

“Udah-udah lebih baik kamu tidur sekarang”

Di elusnya kepala si anak penuh kasih. Dengan perasaan berat hati sang ibu terpaksa menceritakan keadaan negeri yang sangat memprihatinkan ini kepada seorang anaknya yang masih sangat kecil.

Tulisan ini pernah dimuat dalam Tabloid Jumpa, Universitas Pasundan Bandung

Cikutra—Bandung September 2004

-HF-

No comments: