Tuesday, September 11, 2007

Cintailah Aku Sebagaimana Mestinya........

Malam ini kembali aku mendengarkan nyanyianmu. seperti biasa, suara nya masih begitu indah. biarpun lewat telpon, tapi senang sekali rasanya hati ini.
Untuk sekian kalinya maaf sekali kalau sampai hari ini aku masih saja mengabaikanmu. Seharusnya aku sudah mulai lebih memahamimu tidak dengan nyanyian, tapi jauh dari itu kapan kita akan mengumpulkan serihan-serpiha kehidupan yang jauh lebih indah dari sekedar nyanyian dan puisinya.

Sekali lagi berikan kesempatan aku untuk mendapatkan cinta darimu. Biarpun kelak mungkin aku hanya menjadi bagian dari cerita indahmu. Tapi aku ingin memastikan bahwa tidak ada sedikitpun keraguan untuk tetap mencintaimu, biarpun begitu mencintaimu terasa ada banyak sekali sederet beban yang menunggui.

Cintailah aku sebagaimana mestinya. itu saja sudah lebih dari cukup. Karena aku yakin semakin aku mencintaimu itu saja sudah cukup, Tanpa ada rasa sedikitpun untuk bisa berharap lebih darimu. Aku hanya bisa menitipkan semuanya, cinta, kasih sayang serta cita-cita yang sering kita dendangkan bersama. Semoga saja nyanyianya akan selalu terdengar sampai tidak ada lagi rasa khawatir diantara kita. Dan kita akan melangkahkan kaki dengan bersama-sama. Terus berdoalah-Semoga saja Tuhan izin.

Dalam kegelapan, aku masih saja menatap nyala lilinya..



HF-Bandung 27 Mei 2007

Indonesia Menggugat: Menggugat Indonesia

Ada anak jalanan yang menyanyi. awalnya hanya instrumen musik saja yang mereka mainkan, kemudian mereka bersama-sama menyanyikan lagu-lagu khas jalanan, ada juga cindai, dan terakhir Indonesia tanah airku.

Sore itu orang-orang begitu ramai. ada beberapa tokoh partai politik, para pelaku sejarah aktivis mahasiswa dari mulai angkatan tujuhpuluhan, sampai para aktivis mahasiswa yang baru-baru, kemudian ada akademisi, anak jalanan, LSM, seniman dari mulai komunitas yang beraliran kiri, kanan, atas dan bawah mereka ada di ruangan yang tidak begitu besar itu. Sebuah ruangan dimana dahulu di jaman kemerdekaan Soekarno pernah di adili dan di sidangkan di tempat ini. Masih ada jejak-jejak pengadilan Soekarno disini, di dinding-dinding tertempel berkas-berkas berita koran pada jamannya yang memberitakan penangkapan dan persidangan Soekarno. bahkan ruang persidangannya pun masih di rawat dan di jaga.

Acara sore itu di buka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Testimoni 9 tahun reformasi, sebuah acara yang di adakan untuk mengenang dan menghidupkan kembali spirit perjuangan mahasiswa dalam mengawali perubahan bangsa ini. Tidak ada pembicara yang memaparkan materi-materi semuanya yang hadir berhak memberikan pandangan maupun pengakuannya terhadap reformasi yang di motori oleh gerakan mahasiswa. Semuanya bebas berbicara, semuanya boleh menyatakan pendapatnya.

Pembicaraan berlangsung dengan hangat, ada kritikan tajam, ada guyonan khas para aktivis gerakan, ada kesedihan, keprihatinan bahkan terkadang sumpah serapah turut mengiringi berlangsungnya acara tersebut. Seorang teman melemparkan koin-koin sebagai simbol atas digadaikannya nilai-nilai perjuangan yang mesti kita tegakkan bersama, seorang lagi memakai topeng dan berdiri di atas podium membacakan puisi dan sumpah rakyat indonesia. Sementara seorang kakek dengan bersemangat menceritakan bagaimana semestinya bangsa ini mengurai dana memecahkan setiap persoalannya.

Aku yang tidak habis pikir dan hanya tersenyum masam melihat setiap tingkah dan bagaimana cara orang-orang yang datang itu berbicara. Tiga kali aku di panggil intel polisi menanyakan tentang acaranya. Entah apa yang ingin aku pikirkan tentang ini semua. Tidak mengerti? Ataukah aku terlampau mengerti? Sampai-sampai untuk mengungkapakan dan berbuat saja rasanya sudah muak.

Dan sore ini, aku melihat ada beberapa anak-anak bangsa yang menyatakan cinta dan kasih sayangnya, semuanya atas nama besarnya rasa kepedulian terhadap bangsa dan negara Republik Indonesia tercinta ini. Menggugat Indonesia, disini, di gedung Indonesia Menggugat.

***

Kemudian malamnya aku temui lagi kekasihku. biasa saja, tidak ada yang istimewa, hanya saja terdengar siratan-siratan parau yang kembali mengingatkanku betapa aku sudah di tungguinya..
Kelak aku akan menyambutmu di penghujung jalan itu..

HF

Perintis kemerdekaan 26 Mei 2007

Enam Jam Bersamamu....

Enam jam bersamamu tidak membuatku lelah. Enam jam bersamamu tidak membuatku kehabisan kata. Enam jam bersamamu tidak membuatku bosan. Enam jam bersamamu semakin membautku faham bagaimana cinta semestinya di maknai. Enam jam bersamamu seharusnya aku bagaimana? Enam jam bersamamu ada banyak sekali tema yang kita bicarakan. enam jam bersamamu ach sungguh aku merindukanmu. Enam jam bersamamu sungguh mahal sekali ongkosnya.

Dua jam, empat jam, enam jam, delapan jam, sepuluh jam, dan mungkin selanjutnya ada waktu berjam-jam untuk kita menghabiskan waktu bersama, atau malah sebaliknya, tidak ada satu detikpun waktu untuk bisa menyapamu. dari sekian banyaknay waktu--atau mungkin tidak ada waktu untuk kita saling mengerti, saling berbagi cerita, merangkai tawa, yang kadang kemesraaan, ada kesedihan dan semuanya berbaur dalam sebuah ikatan yang konon telah hidup jauh sebelum semesta ini terbentuk yakni ikatan cinta kasih.

Lalu bagaimana aku bisa memberikan sesuatu dengan enam jam, padahal itu juga hanya di telfon? naif memang. Tapi setidaknya jika harus ada yang di tinggalkan dari enam jamnya yah begitulah yang ingin aku sampaikan. Selain kehangatan cinta dan kasih sayang, obrolan-obrolan, keceriaan dengan lagu-lagu, sampai bagaiamana kita melihat dan membaca persoalan-persoalan kehidupan lainnya, aku tidak ingin meninggalkan kebencian sedikitpun kepadamu. Terlebih hanya dengan enam jamnya.


[Enam jam bersamamu, duh pulsaku habis.. =D]

HF-Bandung 27 Mei 2007

Saturday, September 1, 2007

CapPe dehhhh...


Kadangkala ada sekelibat pikiran kelelahan
kejenuhan atas penantian...
ketidakpastian akan semuanya kembali mengingatkanku pada peristiwa
beberapa tahun yang lalu
saat diri ini terbenam sepi bergulat dengan semua hujatan, makian dari orang-orang yang ada disekitar..tanpa adanya teman bertarung, teman berjuang, hanya sekedar untuk meyakinkan semua orang termasuk diriku bahwa kita tidak bersalah...karena cinta tak akan pernah salah..

Dan beberapa tahun kemudian, dengan teman bertarung yang berbeda, kembali ku harus
meyakinkan diri untuk bangun dari kelelahan ini..bahwa ia akan selalu ada disisi ku
menyemangati setiap langkahku..membantuku menghujat kembali orang-orang itu..
mungkin dengan hanya melihatnya tersenyum, bisa membuat dada ini lega.
Kelegaan akan adanya seseorang yang mencintai...

Namun kelegaan tidak sepenuhnya akan selalu berada disini,
karena entah mengapa dada ini terasa sesak kembali..kemudian keraguan..kemudian ketidak yakinan..
kemudian keinginan untuk lepas dari kisah cinta yang membuat mabuk..kemudian........
Maaf cinta, maaf sayang, karena tiba-tiba langkahku tersendat, langkah ini tak bisa kulanjutkan lagi
sempat berpikir atas pikiran "nakal" untuk berpisah, dan bertemu kembali 1 tahun lagi, mungkin saat itu kita sudah lebih matang, dan lebih dewasa, dan mungkin...kita sudah tidak sendiri lagi
060707, 23:30


Aneh dan susah jadi orang yang tidak stagnan, selalu turun naik perasaannya, kebanyakan bergulat dengan "kalau..." "kalau....", kasian Oppa, yang dengan sabarnya mendengarkan omelanku kala bad mood, dan dengan enegnya mendengarkan cerita-ceritaku kala good mood. Dan tulisan di atas, sempat dibuat ketika bad mood banget, lelah dengan gejolak kehidupan yang monoton, dan dah putus asa..

Tapi kemudian, tenangnya Oppa menyiram semua kobaran bad mood nya, dengan berbagai macam jurus lah, puisi lah, kata-kata lah..Duh, Oppa..Kangennn banget!!!

Dan sekarang, udah so pasti, saat-saat menurunnya dateng lagi, gara-gara kesibukan Oppa yang sangat menyita waktunya, sibuk banget ampe kayak punya dunia sendiri bersama kegiatannya..tapi barusan hilang sebentar karena baca tulisan di atas itu, lucu dan konyol. Memanglah kalo lagi jatuh cinta, ntar kalo ilang cinta nya, tinggal jatuhnya dech..hehehehe!! Semoga tidak lah ya....


Maaf ya Oppa...

-AAR-