Ada anak jalanan yang menyanyi. awalnya hanya instrumen musik saja yang mereka mainkan, kemudian mereka bersama-sama menyanyikan lagu-lagu khas jalanan, ada juga cindai, dan terakhir Indonesia tanah airku. Sore itu orang-orang begitu ramai. ada beberapa tokoh partai politik, para pelaku sejarah aktivis mahasiswa dari mulai angkatan tujuhpuluhan, sampai para aktivis mahasiswa yang baru-baru, kemudian ada akademisi, anak jalanan, LSM, seniman dari mulai komunitas yang beraliran kiri, kanan, atas dan bawah mereka ada di ruangan yang tidak begitu besar itu. Sebuah ruangan dimana dahulu di jaman kemerdekaan Soekarno pernah di adili dan di sidangkan di tempat ini. Masih ada jejak-jejak pengadilan Soekarno disini, di dinding-dinding tertempel berkas-berkas berita koran pada jamannya yang memberitakan penangkapan dan persidangan Soekarno. bahkan ruang persidangannya pun masih di rawat dan di jaga.
Acara sore itu di buka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Testimoni 9 tahun reformasi, sebuah acara yang di adakan untuk mengenang dan menghidupkan kembali spirit perjuangan mahasiswa dalam mengawali perubahan bangsa ini. Tidak ada pembicara yang memaparkan materi-materi semuanya yang hadir berhak memberikan pandangan maupun pengakuannya terhadap reformasi yang di motori oleh gerakan mahasiswa. Semuanya bebas berbicara, semuanya boleh menyatakan pendapatnya.
Pembicaraan berlangsung dengan hangat, ada kritikan tajam, ada guyonan khas para aktivis gerakan, ada kesedihan, keprihatinan bahkan terkadang sumpah serapah turut mengiringi berlangsungnya acara tersebut. Seorang teman melemparkan koin-koin sebagai simbol atas digadaikannya nilai-nilai perjuangan yang mesti kita tegakkan bersama, seorang lagi memakai topeng dan berdiri di atas podium membacakan puisi dan sumpah rakyat indonesia. Sementara seorang kakek dengan bersemangat menceritakan bagaimana semestinya bangsa ini mengurai dana memecahkan setiap persoalannya.
Aku yang tidak habis pikir dan hanya tersenyum masam melihat setiap tingkah dan bagaimana cara orang-orang yang datang itu berbicara. Tiga kali aku di panggil intel polisi menanyakan tentang acaranya. Entah apa yang ingin aku pikirkan tentang ini semua. Tidak mengerti? Ataukah aku terlampau mengerti? Sampai-sampai untuk mengungkapakan dan berbuat saja rasanya sudah muak.
Dan sore ini, aku melihat ada beberapa anak-anak bangsa yang menyatakan cinta dan kasih sayangnya, semuanya atas nama besarnya rasa kepedulian terhadap bangsa dan negara Republik Indonesia tercinta ini. Menggugat Indonesia, disini, di gedung Indonesia Menggugat.
***
Kemudian malamnya aku temui lagi kekasihku. biasa saja, tidak ada yang istimewa, hanya saja terdengar siratan-siratan parau yang kembali mengingatkanku betapa aku sudah di tungguinya..
Kelak aku akan menyambutmu di penghujung jalan itu..
HF
Perintis kemerdekaan 26 Mei 2007