Friday, November 16, 2007

Sebuah MonoLog Kepada-Mu

Malam itu kurasakan naluri pemberontakan, antara rasa tidak ingin ditindas,
semangat rasa cinta yang menggebu atas teman jiwa, tapi disudut lain naluriku ingin tunduk, patuh, sabar, menunggu, pasrah...
Hanya karena sebuah pembicaraan yang mungkin tidak fokus, yang kemudian mengarah pada
kesalahpahaman yang benar-benar diluar garis kemahfumanku..a not understandable analogy...
Kemudian bebagai macam pembenaran pun mengalir, ya...aku sadar malam itu adalah
perselisihan hebat kami...
Lalu apa setelah ini Tuhan?

Segala sesuatunya harus dilogikakan, dan logika harus berdasar pada kenyataan,
dan pembicaraan itu bermuara pada analogi, tanpa logika berdasar kenyataan.
Malam itu sebuah televisi yang gambarnya sudah kabur menjadi saksi perdebatan ini, berkali-kali hati kecilku berbisik untuk segera mengakhiri pembicaraan ini, mengalah dan menyingkir dari gejolak rasa, angan dan harapan yang sudah terbentuk, kemudian menghilang seiring waktu, karena nampaknya genderang perang masih enggan lengser dari hatiku.
Dan benar, malam ini airmataku kembali mengalir...
Seorang wanita yang selalu identik dengan airmata, cengeng..ah..
yang kadang dijadikan sebuah defense mechanism untuk mempertahankan dirinya.
Tuhan, apa maksud semua ini?

Sepertinya kami terlalu lelah, mengantuk, waktupun sudah mendekati subuh, mungkin
hal yang paling bijak dilakukan adalah mengakhiri pembicaraan ini dan beristirahat untuk
memulihkan raga dan jiwa yang terlalu sumpek, terlalu capek, terlalu emosi.... Sudah sekian lama perasaan ini tidak kurasakan, dan malam ini puncaknya, di tengah-tengah kegundahan, di tengah-tengah kegelisahan, di tengah-tengah keletihan,
Tuhan, aku butuh jawaban-Mu..Aku butuh kehadiran-Mu...

Tapi Tuhan, kenapa aku enggan beranjak dari gejolak ini,
Aku masih ingin mendengar suaranya, merasakan ruh nya lewat senandung yang selalu ia dendangkan....merasakan kembali saat-saat bersama, yang mungkin masih bisa dihitung dengan jari intensitasnya setelah sekian lama. Haruskah semuanya kembali getir, tawar, haruskah keraguan kembali datang?
Aku rindu Tuhan...

Dengan mata terpejam..kubisikkan "Segalanya kuserahkan kepada-Mu, Ya Rabb, pemilik dari segala rasa, pemilik dari segala umat...Semua kupasrahkan pada-Mu"


Yogyakarta, 171107
-AAR-

Wednesday, November 14, 2007

++Pengakuan Cinta, Sebuah Trilogi++

Pengakuan Ke-1

Pada awalnya aku harus menyerahkan seluruhnya kepada Allah SWT yang karena Dialah sampai hari ini aku masih bisa melakukan banyak aktifitas, termasuk masih bisa merasakan nikmat keindahan serta kebesaran--Nya. Pun demikian karena pancaran cahaya--Nyalah yang sunguh maha dahsyat, senantisa memancarkan, memantulkan bahkan menembus apapun yang di dapati di seluruh jagad langit dan jagad bumi ini sehingga tidak ada yang terlewatkan secuilpun tidak tersentuh oleh maha dahsyat cahaya kasih sayangn--Nya. Maka, dengan menyebut nama--Mu ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kemudian akhirnya sampailah pancaran cahaya cinta kasih sayang itu kepada relungan terdalam hati ini. Aku yang bisa siapa saja, yang kebetulan membacanya dengan teks-teks kecil masih dari berbentuk nilai kebesaran--Nya, mendapati sebuah dunia keindahan. Sebuah dunia yang memliki keindahan dari langit yang diturunkan secara langsung oleh Allah kepada siapa saja, dan apapun itu asalkan mau menggali serta mengenali keindahannya sendiri.

Maka jadilah "Kun Fayakun"...Allah SWT yang kuasa atas segalanya, Allah SWT yang kemudian memberikan pancaran cahayanya tanpa pamrih terus mengalirkan cinta cinta, kasih kasih, sayang sayang terus demikian sampai kita tidak menyadarinya bahwa semuanya bersumber kepada--Nya. Dengan menyebut asma--Mu ya Allah Tuhan pengasih, Tuhan penyayang, Tuhan segala Agama.[]


Pengakuan Ke-2

Sebut saja Muhammad SAW yang dijadikan wakil terpilih dari Allah SWT yang kemudian ditunjukkan sebagai yang menyampaikan kebesaran--Nya, yang salah satunya menyebarkan cinta dan kasih sayang antar sesama mahluk. "Ashadu Alaillahailahuallah wa ashadu anna muhammadarosululillah" aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan--Nya.
Begitulah kesaksianku untuk menunjukan bgaimana tidak meragukan atas apapun yang telah di gariskan kepada Muhammad sebagai pemimpin besar bumi ini. Dan begitulah sumpahku atas kehidupan bahwa apapun yang terjadi aku akan selalu berada di wilayah-wilayah kekuasaan dan kebesaran--Nya.

Dan aku hanya akan menggunakan kekuatan cinta dan kasih sayang Muhammad itu saja untuk bekal bagaimana kita harus berprilaku dan bertutur. Tidak ada yang lain, kalau sekiranya ada sebentuk cinta dan kasih sayang yang lain di luar dari dua bentuk sumber cinta kasih sayang itu aku pastikan bahwa itu adalah hanya serpihan-serpihan kebesaran Allah SWT yang melalui Muhammad itu di pancarkan.

Pengakuan Ke-3

Kemudian cahayanya tepancar dimana-mana. Di dalam hati, di dalam setiap nafas, di dalam gerakan-gerakan tangan, kaki, mata, serta dalam wujudnya yang lain. Cahayanya memancar dari setiap ekspresi terkecil sampai kepda sebuah lompatan terjauh. Inilah ekspresi itu dalam manifestasi ragawi. Dalam wujudnya yang kasat mata.

Bandung, 141107
-HF-


--Dengan Cinta--

Entah untuk keberapa kalinya kekasihku mesti menangis. Maaf—meskipun begitu tidak sedikitpun niatan terbesit untuk melukai atau menyakiti hatinya. Mungkin itu hanya ekspresi kasih sayang yang dalam bentuknya terkadang menyakitkan. Tapi lagi-lagi sungguh aku tidak bermaksud untuk menyakitinya. Terkadang kita memang benar-benar mesti menyerah kepada kehidupan, semuanya sudah tidak terlihat batasan-batasan, antara benar, salah, baik, buruk, hitam, dan putihnya. Menjadi tidak nyata, serba tumpang tindih.



Untuk itu dengan cinta. Karena hidup adalah persoalan bagaimana kita memaknai dan menikmatinya. Dalam keadaan yang serba tumpang tindih tadi, cinta semestinya membawa angin segar untuk bisa mengharmonisasian serta menetralisir keadaan menjadi lebih terlihat pasti. Cinta adalah sebuah media untuk bisa mendialogkan persoalan yang terlanjur menjadi ruh dalam kebersamaannya. Dalam kebinekaan cinta datang menawarkan kedamaian, meski berbeda sekalipun. Sungguh dengan cinta.

Dengan cinta ada kesunyian yang menjadi indah. Dengan cinta sebuah dunia menjadi berwarna dan indah. Dengan cinta ada ketakjuban atas fenomena aneh, rasa, hati, fakir, tutur, dan semuanya tidak biasa. Dan sepertinya aku masih ingin berada dalam kebersamaannya. Dengan cinta tentu saja.


Bandung, 151107

-HF-

Setelah subuh itu—aku tidak habis memikirkannya..