semangat rasa cinta yang menggebu atas teman jiwa, tapi disudut lain naluriku ingin tunduk, patuh, sabar, menunggu, pasrah...
Hanya karena sebuah pembicaraan yang mungkin tidak fokus, yang kemudian mengarah pada
kesalahpahaman yang benar-benar diluar garis kemahfumanku..a not understandable analogy...
Kemudian bebagai macam pembenaran pun mengalir, ya...aku sadar malam itu adalah
perselisihan hebat kami...
Lalu apa setelah ini Tuhan?
Segala sesuatunya harus dilogikakan, dan logika harus berdasar pada kenyataan,
dan pembicaraan itu bermuara pada analogi, tanpa logika berdasar kenyataan.

Malam itu sebuah televisi yang gambarnya sudah kabur menjadi saksi perdebatan ini, berkali-kali hati kecilku berbisik untuk segera mengakhiri pembicaraan ini, mengalah dan menyingkir dari gejolak rasa, angan dan harapan yang sudah terbentuk, kemudian menghilang seiring waktu, karena nampaknya genderang perang masih enggan lengser dari hatiku.
Dan benar, malam ini airmataku kembali mengalir...
Seorang wanita yang selalu identik dengan airmata, cengeng..ah..
yang kadang dijadikan sebuah defense mechanism untuk mempertahankan dirinya.
Tuhan, apa maksud semua ini?
Sepertinya kami terlalu lelah, mengantuk, waktupun sudah mendekati subuh, mungkin
hal yang paling bijak dilakukan adalah mengakhiri pembicaraan ini dan beristirahat untuk
memulihkan raga dan jiwa yang terlalu sumpek, terlalu capek, terlalu emosi.... Sudah sekian lama perasaan ini tidak kurasakan, dan malam ini puncaknya, di tengah-tengah kegundahan, di tengah-tengah kegelisahan, di tengah-tengah keletihan,
Tuhan, aku butuh jawaban-Mu..Aku butuh kehadiran-Mu...
Tapi Tuhan, kenapa aku enggan beranjak dari gejolak ini,
Aku masih ingin mendengar suaranya, merasakan ruh nya lewat senandung yang selalu ia dendangkan....merasakan kembali saat-saat bersama, yang mungkin masih bisa dihitung dengan jari intensitasnya setelah sekian lama. Haruskah semuanya kembali getir, tawar, haruskah keraguan kembali datang?
Aku rindu Tuhan...
Dengan mata terpejam..kubisikkan "Segalanya kuserahkan kepada-Mu, Ya Rabb, pemilik dari segala rasa, pemilik dari segala umat...Semua kupasrahkan pada-Mu"
Yogyakarta, 171107
-AAR-


