
Beberapa orang teman telah menunggu di pemancingan - Jambon Resto -
Perempuan berjilbab itu yang pertama kali menyapaku, aku memanggilnya mbak Mully, belum pernah bertemu sebelumnya - tapi sudah cukup familiar - kekasihku yang menceritakannya, kemudian yang lainnya, seorang perempuan berdarah Bali dengan lelaki Nias, aku menyalaminya di sela-sela kesibukannya menarik-narik kailnya yang terbawa ikan. Sementara yang dua orang lagi adalah pasangan suami istri yang berasal dari Sulawesi.
Sepertinya aku tidak mesti banyak berbasa basi dengan orang-orang baru ini. Aku merasakan tidak ada yana asing. Semuanya terasa telah berbaur dalam kolam pancingnya, hanya satu yang menjadi keinginan kami adalah mendapatkan ikan bawal yang besar....
Dua jam terlewatkan - hanya beberapa saja ikan yang dapat kami tangkap. Namun tidak menyurutkan semangat kebersamaan siang itu. Dengan candanya mas Ober - begitu kami memanggil lelaki asal Nias itu - terus menjadikan suasana semakin hidup. Sampai akhirnya waktunya makan siang, dan kami pun mulai bersantap. Ikan yang tadi kami dapat terasa menjadi lebih nikmat, ada kepuasan tersendiri menyertai rasa ikan bawalnya.
Dalam santap siangnya ada beberapa kepenatan yang terlupakan, ada kelelahan yang tergantikan, dan mungkin juga ada beberapa persoalan yang menjadi usai. Tidak ada berita miris yang selalu tersaji, siang itu kami tertawa, saling melempar gurauan dengan canda segar. Dengan bawal dan udang bakar sebagai menu makannya kami lahap menyantapnya.
Sebelum akhirnya kami kembali menjumpai rutinitas dengan sederet realitas yang sungguh membosankan, ada beberapa pose yang akan terkenang, ada gambar-gambar yang kelak mungkin kita akan tersenyum melihatnya. Dan aku hanya bisa mengucapkan “Selamat datang kebersamaannya” — dan kelak aku akan menyalaminya kembali dalam bentuknya yang lain.
Bandung—mengenang pada santap siang di Jambon Rezto Yogyakarta 19 Mei 2007
-HF-
Perempuan berjilbab itu yang pertama kali menyapaku, aku memanggilnya mbak Mully, belum pernah bertemu sebelumnya - tapi sudah cukup familiar - kekasihku yang menceritakannya, kemudian yang lainnya, seorang perempuan berdarah Bali dengan lelaki Nias, aku menyalaminya di sela-sela kesibukannya menarik-narik kailnya yang terbawa ikan. Sementara yang dua orang lagi adalah pasangan suami istri yang berasal dari Sulawesi.
Sepertinya aku tidak mesti banyak berbasa basi dengan orang-orang baru ini. Aku merasakan tidak ada yana asing. Semuanya terasa telah berbaur dalam kolam pancingnya, hanya satu yang menjadi keinginan kami adalah mendapatkan ikan bawal yang besar....
Dua jam terlewatkan - hanya beberapa saja ikan yang dapat kami tangkap. Namun tidak menyurutkan semangat kebersamaan siang itu. Dengan candanya mas Ober - begitu kami memanggil lelaki asal Nias itu - terus menjadikan suasana semakin hidup. Sampai akhirnya waktunya makan siang, dan kami pun mulai bersantap. Ikan yang tadi kami dapat terasa menjadi lebih nikmat, ada kepuasan tersendiri menyertai rasa ikan bawalnya.
Dalam santap siangnya ada beberapa kepenatan yang terlupakan, ada kelelahan yang tergantikan, dan mungkin juga ada beberapa persoalan yang menjadi usai. Tidak ada berita miris yang selalu tersaji, siang itu kami tertawa, saling melempar gurauan dengan canda segar. Dengan bawal dan udang bakar sebagai menu makannya kami lahap menyantapnya.
Sebelum akhirnya kami kembali menjumpai rutinitas dengan sederet realitas yang sungguh membosankan, ada beberapa pose yang akan terkenang, ada gambar-gambar yang kelak mungkin kita akan tersenyum melihatnya. Dan aku hanya bisa mengucapkan “Selamat datang kebersamaannya” — dan kelak aku akan menyalaminya kembali dalam bentuknya yang lain.
Bandung—mengenang pada santap siang di Jambon Rezto Yogyakarta 19 Mei 2007
-HF-






.jpg)
