Tuesday, May 29, 2007

-lanjutan-


Beberapa orang teman telah menunggu di pemancingan - Jambon Resto -
Perempuan berjilbab itu yang pertama kali menyapaku, aku memanggilnya mbak Mully, belum pernah bertemu sebelumnya - tapi sudah cukup familiar - kekasihku yang menceritakannya, kemudian yang lainnya, seorang perempuan berdarah Bali dengan lelaki Nias, aku menyalaminya di sela-sela kesibukannya menarik-narik kailnya yang terbawa ikan. Sementara yang dua orang lagi adalah pasangan suami istri yang berasal dari Sulawesi.

Sepertinya aku tidak mesti banyak berbasa basi dengan orang-orang baru ini. Aku merasakan tidak ada yana asing. Semuanya terasa telah berbaur dalam kolam pancingnya, hanya satu yang menjadi keinginan kami adalah mendapatkan ikan bawal yang besar....

Dua jam terlewatkan - hanya beberapa saja ikan yang dapat kami tangkap. Namun tidak menyurutkan semangat kebersamaan siang itu. Dengan candanya mas Ober - begitu kami memanggil lelaki asal Nias itu - terus menjadikan suasana semakin hidup. Sampai akhirnya waktunya makan siang, dan kami pun mulai bersantap. Ikan yang tadi kami dapat terasa menjadi lebih nikmat, ada kepuasan tersendiri menyertai rasa ikan bawalnya.

Dalam santap siangnya ada beberapa kepenatan yang terlupakan, ada kelelahan yang tergantikan, dan mungkin juga ada beberapa persoalan yang menjadi usai. Tidak ada berita miris yang selalu tersaji, siang itu kami tertawa, saling melempar gurauan dengan canda segar. Dengan bawal dan udang bakar sebagai menu makannya kami lahap menyantapnya.

Sebelum akhirnya kami kembali menjumpai rutinitas dengan sederet realitas yang sungguh membosankan, ada beberapa pose yang akan terkenang, ada gambar-gambar yang kelak mungkin kita akan tersenyum melihatnya. Dan aku hanya bisa mengucapkan “Selamat datang kebersamaannya” — dan kelak aku akan menyalaminya kembali dalam bentuknya yang lain.

Bandung—mengenang pada santap siang di Jambon Rezto Yogyakarta 19 Mei 2007

-HF-

“Menyapa Kebersamaannya; Dan Kebersamaan Itu di Yogya”

Pagi itu tidak ada yang perlu dipersiapkan, misalnya saja melakukan persiapan kecil seperti yang kita lakukan jika mau pergi ke Mall maupun ke kampus. Bahkan untuk sekedar mencocokan pakaian dan gaya rambut saja tidak terfikir.
Tapi pagi itu ada yang harus aku sambut kedatangannya. Tentu dengan senyuman dan suasana hati yang sumringah. Siapakah ia? adakah ia seorang sahabat, handai taulan, kerabat, ataukah puan dan tuan?

Beberapa poster terlihat begitu provokaitif bertuliskan "TURUNKAN SOEHARTO", "GULINGKAN REZIM ORDE BARU", sementara ada yang membawa bendera dikibar-kibarkan, dan satunya lagi berada di atas mobil berorasi, mungkin hujatan, juga serapah. Aku terus mengikuti setiap perkembangan berita mengenai tragedi berdarah Mei 1998 yang menewaskan kawan-kawan mahasiswa. Bukan saja geram setiap kali teringat tragedi itu, tetapi ini yang membuat kepercayaanku muncul bahwa setidaknya aku masih punya hati nurani yang masih tersisa. Tapi tidak dengan negeri ini. Dalam hal ini Negara sudah begitu jahat kepada putra dan putri anak negerinya sendiri.

Begitulah berita di televisi, di koran-koran, yang menjadi isyu hangat pembicaraan para elit negeri ini di sela-sela persoalan bangsa yang korup, yang “waladalah” bangsa ini semakin carut marut saja. Belum lagi persoalan-persoalan kemiskinan yang..lihat saja, ada tubuh mungil yang perutnya kian membuncit karena kelaparan, ada satu keluarga lagi yang hanya bisa memakan nasi aking, kemudian ada sekumpulan masyarakat yang menolak tanahnya di gusur, lagi keributan demi keributan konflik horizontal kian marak terjadi—Ya ampuuuun bangsaku ternyata?? Apa yang sebenarnya yang tengah terjadi atas tanah subur Indonesia Raya ini? “Hampura duh Gusti..”

Di sela-sela itu semua, dari balik pintu aku mendapati wajah cantiknya tersenyum, kemudian memberi salam, dengan bergegas tangan halusnya meraih tanganku-dan menciumnya.
Ya Tuhan ternyata…ach kekasihku, terimakasih sepagi ini sudah menyentuhku dengan kasih sayangmu.

Aku tinggalkan berita televisi dan koran-koran. Aku yang berada di Yogya dari tiga hari yang lalu dan setiap paginya hanya bisa menunggu sapa hangatnya dari kamar kos kecil ini yang ku pinjam dari seorang sahabat. Mungkin pelukan hangat saja tidak cukup untuk bisa menyingkirkan getaran-getaran yang masih begitu terasa di lubuk hati ini mengenai berita-berita di televisi dan koran-koran tentang tragedi berdarah Mei 1998, yang kasusnya tidak pernah jelas juntrungannya itu. Tapi... kekasihku lagi-lagi mencoba menawarkan kebersamaanya dengan penuh cinta.

bersambung


-HF-

maLaM di gaZiBu


Subuh dan Menggeliatlah..

"Kembalikan Indonesia Padaku" beberapa orang berteriak dari belakang - tengah - samping - dan dari mana-mana berteriak. Suaranya menggema, menggetarkan gedung ini "Kembalikan Indonesia Padaku!!".
Sementara sorang muda gondrong, kurus dan kumal berdiri tegak di depan. Tubuhnya mengayun-ayun mengikuti irama biola yang sedang digeseknya, beberapa lagu wajib nasional, juga lagu-lagu daerah. Pemuda satunya lagi terlihat tersenyum masam, kedua tangannya di buka lebar, ia membacakan puisinya Taufik Ismail "Kembalikan Indonesia Padaku".

Malam itu ruangan tengah Gedung Sate yang megah di sulap menjadi sebuah Balroom untuk pertemuan. Terlihat semua tamu yang hadir begitu necis, rapih, dan wangi. Sebagian besar mereka adalah teman-temanku. Ada beberapa tokoh sunda, dari yang muda sampai ke para inohong-inohong sunda, semuanya terlihat ‘wah!’ dan sungguh terhormat. Para pemudanya begitu segar dan kasep, sementara para pemudinya memakai kebaya dan cantik nan anggun.

Malam itu semuanya terlihat larut dalam suasana yang penuh nilai khas kesunda-an. Ada gamelan, calung, gendang yang akhirnya di tutup oleh penampilan kang Doel Sumbang "marilah sayang/mari sirami/cinta yang tumbuh di dalam hati". Beberapa teman mendekati dan membisikiku, bahkan ada yang menarikku untuk turut dalam suasana keceriaan, ia mengajakku untuk turut berdendang ke depan, aku menepisnya dan hanya tersenyum untuk membalas ajakannya.

Selanjutnya tidak ada yang tersisa selain gemerlapnya malam itu, betapa meriahnya malam itu, terlebih setelah kita kembali dan melupakannya. Dan malam itu aku hanya mengucapkan "Selamat jalan teman...entah kapan lagi kita berkumpul"

Di luar aku hanya terdiam, sesekali aku menyapa temen-temen yang pamit. Udara kota Bandung malam itu begitu dingin. Aku rasai ada yang kurang dari struktur malamnya, tapi aku tidak dibiarkan sekedar mengingat dirimu duh sayang... Teman-teman keburu membuyarkan pencarian imajiku. Diajaknya aku ke hotel, katanya sekedar ngobrol dan kangen-kangenan.

Sebenarnya aku sudah tidak bersemangat, ingin rasanya segera pulang dan merebahkan tubuhku ke kasur dan menelpon kekasihku yang mungkin menunggu teleponku. Tapi..ach sudahlah sepertinya malam ini aku harus benar-benar menitipkan kekasihku pada langit malamnya.

Sebelum akhirnya subuh benar-benar tercipta, aku duduk bersila, kudongakkan wajahku ke atas dan mencoba menggugat sembari menyerahkan kembali semuanya kepada Sang Khalik. Sampai akhirnya air mataku keluar, dan kutempelkan kening - kusejajarkan dengan sajadahnya. "Ya Allah akan Engkau jadikan apa aku hari ini".

-HF-
[Untuk teman-teman putra dan putri sunda....berbuatlah..!!]

Monday, May 28, 2007

Ketika Aku Harus Merindukan-Mu


Ketika aku harus merindukan-Mu
Ada sajadah panjang yang harus kugelar
Dengan ribuan dzikir yang akan ku ulang
Dan beberapa doa akan kupanjatkan

Ketika aku harus merindukan-Mu
Beberapa kejadian akan ku ingat
Merefleksikannya dan menceritakannya kepada-Mu

Ketika aku harus merindukan-Mu
Ada wajah kekasih yang akan ku ingat


Bandung 27 Mei 2007 00:05 WIB
-HF-

Monday, May 21, 2007

Satrio dalam 3 Subuh-Nya - Part 2 / Selesai




Tak sampai subuh ke-2 tiba-tiba ia datang ke kotaku..
Dibawakannya aku sebuah selendang hitam untuk menemaniku menari
Senang? Sedih? Lega? Bahagia? atau Takut?

Entahlah,banyak sekali perasaan yang bergulat di dalam batinku akan kedatangannya, dan kuputuskan untuk menyambutnya dengan senyum..
Kemudian banyak tawa, cerita, nyanyian, tarian, gurauan, tangisan..

Berhari-hari bersama membuatku mengerti akan semua pikirannya, perilakunya, perasaannya, yang kadang kubumbui dengan kecemburuan, kedengkian, dan keegoisan..

Maafkan aku Satrio...

Hari-hari terakhir bersamanya malah membuatku terhenyak akan jalan ini, bahkan kami- sama--sama tidak tahu akan apa yang telah terjadi di antara kami berdua. Cinta ini telah membutakan mata kami, akan adanya Sang Maha Esa di atas sana, yang dapat melakukan apa saja atas kami...

Tuhan, maafkan atas cinta ini yang berlebihan..

Dan hari ini tepat 23 jam sejak ia pergi, kurasakan sebuah kekuatan besar pergi bersamanya dan kuucapkan "Kembalilah Satrio, kembalilah dengan kekuatan itu"


-AAR- 210507

Satrio dalam 3 Subuh-Nya - Part 1

Serasa setahun setelah perpisahan itu, padahal baru 37 hari yang lalu
kulihat ia pergi bersama kuda putihnya.
Rinduuu sekali, ah seperti ini rupanya jatuh cinta..
Dan kemarin, seekor merpati menyampaikan suratnya:
"Aku baik-baik saja, doakan aku, dan kita, tunggu dalam 3 subuh-Nya" bunyi suratnya.
Senang sekali mendengar kabarnya, walaupun tak mengerti apa maksudnya,
dan aku pun tak kuasa bertanya.

Malam menjelang subuh pertama, Aku belum berani berharap, lebih berani untuk
tertidur dan memimpikannya, Nyenyak sekali, tapi telinga ini seolah terjaga.
Tapi, subuh menjelang-dan akhirnya terlewat..."Tinggal 2 subuh" batinku..
Dan bukan 2 subuh, aku kan menunggunya di setiap subuh-Nya..

bersambung
-AAR- 150507

Sunday, May 13, 2007

Sederhana saja...




Sebagaimana sahum menahan diriku untuk berperilaku dan berpikir
Sebagaimana seorang joki memandu kudanya untuk pergi ke jalan yang
dapat dilewati.. dan itulah yang kuharap kan selalu tercipta atas kami..

Segala lekukan hidup ini membuat ku semakin ingin terus berharap
akan kebenaran di hati ini...
Jika memang boleh ku berharap Tuhan...jadikanlah atas kami seperti yang kami inginkan
Ku tak ingin menjadi Siti Khadidjah untuk Rasulullah, Cleopatra untuk Julius Caesar,
atau apapun yang tak bisa kuberikan...
Ku hanya ingin sederhana dalam cintanya, dan kekenyangan-nya atas kesederhanaan itu...


140507 01.20

-AAR-

Tuesday, May 8, 2007

Satrio...

Rindu yang membuncah sejak pertemuan malam itu...
Saat itu kau harus pergi jauh darimu demi tugasmu
Malam-Nya indah sekali, bulan terbentuk bulat sempurna
dengan cahayanya yang memancar menyilaukan mata..
sepasang burung hantu terlihat sedang memadu kasih di salah satu batang pohon Jambu

Dan kemudian dari celah-celah semak belukar, seorang punggawa menghampiri..begitu gagahnya dengan pakaian perangnya yang keemasan, panah beserta busurnya terlihat begitu kokoh di punggungnya, dan sebilah keris terlihat begitu setia di pinggangnya.
Tapi..wajahnya yang terlihat begitu asing, menakutkanku...
Ku tatap langit, gelap...bulanku tertutup akan awan-Nya, dan wajahnya menjadi kabur...Ya Tuhan, diakah Satrio yang kutunggu??

Seolah angin meniup awan-Nya, dan bulanku bersinar kembali, seiring tersunggging dari bibir punggawa, manis...sederhana...dan bermakna.
And those fears vanish with those smile..And everytime he's smile, there's a shade...

Ia memegang tanganku erat, dan memintaku tuk menyanyikan senandung surga untuknya, dan ku bernyanyi untuknya...matanya pun terpejam, dan kembali ia sunggingkan senyuman itu...
Malamku penuh dengan nyanyian, dan ia tidur di buaianku...Sedangkan ku tetap terjaga, bernyanyi untuknya, sambil menatap wajahnya yang meneduhkan..

Tapi Satrio, semburat mentari sudah terlihat di ujung sana...Seekor kuda putih sudah datang menjemputmu...Dan kau harus pulang
.Pergilah Satrio, tunaikanlah tugasmu..Jagalah dirimu disana...
Dan kini 35 hari semenjak kepergianmu, ku merindu malam itu...Ku rindu bersenandung untukmu..

-AAR-

Monday, May 7, 2007

Tapi Satrio......


Siang itu sinar matahari terasa sampai ke tulangku...Lelah sekali rasanya siang itu Dalam anganku, ku membayangkan kasur empuk dan segelas es teh yang menanti di rumah..
Dari jarak 50 meter kulihat samar-samar lampu lalu lintas sedang hijau..
Ku laju motorku dengan harapan motorku bisa bablas, biar cepat sampai...

Tapi...akh, lampu merah mengedipkan matanya, terpaksa kuhentikan motorku.

Kuperhatikan orang berlalu lalang di hadapanku, tiba-tiba datang anak itu menghampiri motorku, usianya kira-kira 3 tahun (Ya Tuhan...Mengapa??) pandangannya menerawang dengan rambut jabrik kemerah-merahan, bajunya kumal dan tidakberalas kaki.


Ia hanya berkata "mbak...." tanpa melihat wajahku, sambil menggaruk-garuk kepalanya dan menengadahkan tangannya. Aku pun hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalaku, serba salah...antara tidak mendidik dan kasihan.


Ia pun menghampiri motor lainnya, ada yang memberi, ada yang tidak...

Ah adik, siapa yang membuatmu menjadi seperti ini..?
Kualihkan pandanganku ke lampu lalu lintas, masih merah..Tapi di balik pohon dekat tiang lampu lalu lintas itu, kulihat beberapa ibu yang sedang mengipas-ngipas wajahnya sambil menyeruput sekantung plastik es teh..kepanasan..
Anak itu terlihat menghampiri salah satu ibu disana, dan memberikan uang recehan kepada sang ibu--nyetor, kemudian berlari-lari bersama teman-temannya disana...


Ah Ibu, kenapa kau membiarkan anakmu seperti ini...?
Ia kan hanya balita yang tidak mengerti apa-apa,
Ia kan berhak untuk menikmati masa kecilnya yang indah,
Ia kan seharusnya tidak berada disana, di pinggir jalan...
Adik, sayang....
Kalau sudah begini, siapa yang salah Tuhan??.....

Sementara para pejabat nyengir-nyengir di kantornya, dengan HP di tangan kanan dan tangan kiri sambil memainkan kursor laptopnya...
Sementara para pejabat sibuk dengan rapat, padahal hanya duduk-duduk di ruangan ber-AC, kadang sambil tidur, kadang sambil menelepon dan ber-haha-hihi..
Ibu-ibu ku dan adik-adik ku harus berada di jalanan..tanpa diperdulikan...

Tapi apa yang ibu-ibu ku pikirkan, kenapa harus adik-adik ku yang mereka 'pajang'...?
Untuk mendapatkan simpati dan belas kasihan orang lain? Apa tidak ada cara lain?
Ya Tuhan, kenapa kehidupan yang mereka jalani membuat mereka berpikir buntu...
Ah Satrio, aku ingin menangis...aku lelah dengan pemandangan ini...Aku ingin menyapamu dan menangis...

Tanah Mataram

-AAR-

Thursday, May 3, 2007

Mom...



Mom, tau apa yang aku pikirkan?
Seorang ibu menimang anak semata wayang kesayangannya.
Lantas dalam dekapannya, sang ibu menyanyikan tembang
"nang...ning...nung...ning...nung.... "

Di usapnya bocah kecil dalam gendongan yang tidak pernah ia rasakan betapa sudah lelah tangannya menggendong, kemudian di tiup-tiupnya rambut malaikat kecil itu.

Sebuah hembusan doa-doa masuk lewat ubun-ubun dari setiap tiupannya.
"Llir-ilir...Lir-ilir...."
Sang ibu melanjutkan nyanyiannya.....

Waktupun berlalu...

Dan kita lihat, betapa ada banyak sekali doa-doa ibu yang kemudian terlihat begitu miris.
Di jalan-jalan, di tempat sampah, dipukuli, diseret, bahkan dipaksakan untuk menerima apapun bentuk penindasan, ditendang, di intimidasi, dan ach...banyak lagi.

Mom, kelak aku ingin menitipkan anak-anak kita, bukan hanya dengan doa-doa tapi juga kepada langit-langit, tanah-tanah, air, serta udara yang kita hisapi setiap harinya.

Mom, subuh ini aku merindukanmu...
-HF-

Wednesday, May 2, 2007

Tiga orang PSK dikantor polisi


Tiga orang PSK akhirnya cukup menghibur kami di kantor polisi.
Namun tak kubiarkan kekasihku tidak menelponku malam itu...
Selanjutnya pijar-pijar malam meneduhkan kelelahanku...

Puih, kebiasaan buruk bangsa ini!!!
Orang main srudug seenaknya...
Hukum digantungnya tinggi, sementara pembenaran
dengan atas nama sistem yang ada dijadikan semacam "Keterwakilan Tuhan" Lha..lha..lha.. Bagaimana ini??

Lantas bagaimana dengan PSK -nya?
Setelah tempat mangkalnya di bubarkan, serta keberadaannya yang terus dirasakan sangat mengganggu, kemudian sekarang ditangkapi,
malah terkadang juga "dikeloni".....

Duh... kekasihku -- Aku sungguh lelah.
Aku tidak ingin melihat semuanya, aku ingin memejamkan mata sembari memelukmu.
Sampai pagi nanti...
Paris Van Java
-HF-