Sunday, August 10, 2008

Pojok Makassar kita...

Well well well, dah luaaamaaaa banget gak nge-post MP nya, kangen juga komen-komen an ma MPers..Pa kabar ya semuanya??? Ngeliat blog terakhir guwe, bulan April di posting, berarti dah hampir 4 bulan Oppa n guwe gak produktif, hehehehe.. Kita berdua lagi sibuk masing-masing, Oppa dengan kariernya, kalo guwe, masih menyelesaikan thesisnya sambill usaha.....

Nah ceritanya, kemaren guwe mudik 1 bulan lebih, disana guwe di daulat ama nyokap untuk merintis usaha rumah makan yang udah jadi impian beliau sejak bokap mau pensiun. Rumah makannya konsepnya jualan makanan asli Makassar, karena bokap asli sana, n yang ahli masak d rumah, paling mak nyussss kalo masak makanan sana..dan akhirnya..eng ing..eng...tanggal 16 Juli kemaren lahirlah si mungil nan lucu rumah makan "Pojok Makassar" yang bertempat di Jalan Raya Serang-Cilegon km.3, yang lahir berkat kebaikan hati seorang bapak, yang mau minjemin bangunan untuk kita pake merintis usaha ini (Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan bapak..amin).

Menu spesial kita.....
Coto Makassar

Es Pisang Ijo

Ikan Laut Bakar





Gambling juga, menawarkan masakan Makassar di tanah Banten, moga-moga aja bisa sukses. Doakan ya kawan-kawan, oh ya kalo ada yang maen ke Serang, mampir ya ke Pojok Makassarnya, buat yang gak makan ikan, ada ayam panggang khas Makassar, n untuk minumnya pengen seger2 ada berbagai macam jus dan es khatulistiwa yang bikin penasaran,Sipp kan?? Weeeddeeeehhhh cocok kan guwe jadi promotion girl?? hehehehe..

Sekali lagi doakan ya frens!!!!





Thursday, April 24, 2008

1 Judgement Day....

Memanglah kalo manusia itu gak punya tujuan, gak punya target, dan gak punya deadline, suka nya nyenteee aja, males-males an. Dan waktu-waktu ini guwe laluin banyak dengan kejenuhan, entah memang benar-benar sudah jenuh, atau memang perasaan guwe yang udah capek belajar muluw (secara formal of course)..Malesnya ini sayangnya cuma di kuliah, kalo jalan2, window shopping, maen..guwe koq gak males ya??hihihihihi..

Salah satu korban kemalasan guwe adalah proposal tesis, ni proposal udah dikerjain dari bulan puasa taun lalu, dan akhirnya selesai juga. Tanggal 30 besok akan diseminarkan di depan temen2 seperjuangan n 5 dosen penguji (3 dari 5 adalah profesor n dokter)..Perasaan tuh udah mau ngadepin "judgement day" aja..
4 hari lagi yang tersisa, sepertinya bukan untuk belajar lagi, tapi kudu ngewirid sebanyak-banyaknya...ada masukan gak amalan apa ya yang kudu guwe amalin...?? kekekekekekek...response ASAP ye frens...

Tuesday, March 4, 2008

<>Kasih dan Sayang<>

Pernahkah kau resapi, arti kasih sayang ibu?
Saat ini aku sangat merasakannya....
Aku ingat ketika aku diasuhnya, digendongnya, disusuinya, diajarinya, dididiknya...

Teringat pula olehku, ketika aku mengecewakan hatinya, membohonginya, tidak mendengar kata-katanya..Ya Allah Ya Rabb, betapa besar dosaku..Namun mengapa betapa besar pula kasih sayangnya kepadaku? Senyumnya selalu hadir untuk menenangkanku, seolah-olah aku adalah anak yang baik budi, padahal Ya Allah, aku belumlah menjadi anak yang baik baginya...Masih banyak yang perlu kuperbuat, masih banyak yang harus kulakukan untuk membuatnya tersenyum lebar di dunia maupun di akherat.


Apakah pula arti seorang ayah bagimu?
Dia juga segalanya bagiku, ketika ia harus terjaga karena tangisanku, ketika kulihat tetesan airmatanya di dalam doa yang ia panjatkan untukku. Ketika kudengar kemarahannya karena kenakalanku, dan ketika beliau menasehatiku untuk menjadi seorang muslimah yang sholehah.
Pengorbanannya membagi waktu antara keluarga dengan tanggung jawabnya sebagai imam keluarga, berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga, agar kami tidak kekurangan.
Kadang beliau menunjukkan kekerasannya, galak..dan di balik semua itu aku menyadari bahwa itu semua adalah ekspresi beliau yang sangat menyayangiku.

Malam ini, aku benar-benar rindu mereka...Ya Allah lindungilah mereka berdua....

Love U Mam and Dad......

NewYorkarto, 1 Maret 2008

-AAR-

+Senja Para Nelayan+

Pinggiran pantai ini tak membuatku jemu. Selain aku suka sekali dengan udaranya, aku begitu keranjingan akan laut. Entah kanapa setiap kali aku duduk di bawah gubuk nelayan ini aku merasakan ada kekuatan yang tidak dapat aku katakan. Semacam rasa ingin selalu kembali dan kembali. Orang tuaku dulu yang selalu mengajakku kesini pada musim liburan sekolah tiba, aku diajarkan banyak tentang alat-alat yang dipakai para nelayan. Tentang bagaimana caranya melempar sauh, sampai bagaimana menurunkan jangkar dan kemudian menggulungnya ketika perahu akan berhenti dan berangkat kembali. Tidak hanya itu bapakku juga sering banyak bercerita tentang nelayan yang pergi di waktu senja. Katanya pekerjaan nelayan itu tidak mudah, bukan hanya keberanian tapi ia juga harus pandai-pandai melihat gejala alam, dari arah mata angin yang bertiup sampai pada ilmu perbintanganpun ia harus mengerti, itu membantu dalam pencarian ikan kelak, katanya.

Bapakku juga yang mengajarkan bagaimana agar aku dapat menikmati laut, sampai seperti sekarang aku begitu suka sekali laut. Katanya laut membuat orang mengerti akan arti sebuah kebesaran. Di hadapan laut manusia bukan apa-apa, kita hanya seonggok kecil belaka dan itu yang akhirnya aku sangat senang berlama-lama di laut. Aku belajar banyak dari deburan air laut yang menghantam karang, ada banyak makna yang dapat diambil dari laut. Bukan hanya kekonsistenan tetapi juga sebuah ketulusan untuk terus melakukan sebuah pembebasan, pembebasan terhadap keadaan.

Pernah sesekali bapak juga mengajaku pergi ke tengah laut mengikuti para nelayan itu mencari ikan. Walaupun ibu sangat melarang, tapi bapak bersikeras untuk tetap mengajakku pergi bersama nelayan-nelayan itu. Katanya kita adalah keturunan orang-orang laut, yang harus mengenal tempatnya, makanya sedari kecil seharusnya kita sudah diajarkan bagaimana pergi ke laut. Itu pertama kalinya aku diajarkan oleh bapak tentang keberanian, aku ingat sekali waktu itu aku baru mau menginjak kelas enam Sekolah Dasar. Agar aku kelak menjadi seorang laki-laki yang tidak pengecut, kata bapak juga aku adalah seorang laki-laki yang keturunan dari laut, yang harus mempunyai keberanain lebih dari orang-orang pada umumnya.

Senja sudah mulai kian memerah, sebentar lagi malam akan segera menggantikan. Aku masih duduk di bawah gubuk nelayan. Anak-anak nelayan menyapa mengajakku untuk segera pulang. Mereka anak-anak nelayan yang patuh, yang selalu mengantarkan kepergian bapaknya, sebentar lagi mereka akan menemani bapaknya pergi nelayan, kemudian kelak akan menggantikan profesi bapaknya sebagai pelaut. Anak-anak itu tumbuh begitu kekar dan pemberani, mereka banyak diajarkan tentang kejujuran oleh laut bahwa laut tidak pernah berbohong. Anak-anak itu juga yang selalu setia terhadap laut, mereka tidak pernah mengeluh terhadap keberadaanya. Malahan mereka sangat antusias sekali dengan keberadaan yang sekarang, mereka begitu berharap kalau besar kelak akan menjadi pelaut yang handal, pelaut yang pergi di sore hari dan pulang pagi dengan membawa tangkapan-tangkapan yang memuaskan.

Sudah berpuluh-puluh tahun penduduk di daerah pesisir pantai ini sangat menggantungkan sebagian kehidupannya terhadap laut, dari semenjak aku kecil dulu sampai aku sebesar ini, penduduk desa ini masih saja tetap setia untuk tetap kembali mencari ikan. Entah bagaimana ceritanya, yang aku tahu sudah semenjak lama sebelum aku lahir. Suara seorang nenek menghentakkan lamunanku. Nenek itu menyapa dengan bahasa daerah, disini menggunakan bahasa campuran antara Sunda dan Jawa. Dan nenek itu berbicara mendekatiku, logatnya yang kental dan pelan, ia mengajakku untuk segera pulang, tidak baik melamun sendiri di tepi pantai apalagi untuk anak muda semacam aku ini katanya. Nenek tua itu membawa beberapa ikat kayu bakar. Aku mengikutinya pulang, sebenarnya aku masih tidak ingin pulang tapi karena nenek itu aku jadi mau diajak pulang. Aku masih punya rumah bekas peninggalan bapakku dulu di desa ini. Malam ini aku ingin sekali menginap disana. Aku ingin sekali menikmati malamnya di desa pinggiran pantai.

Esoknya aku baru pulang, satu jam perjalanan dari desa itu untuk sampai ke kota. Sesampainya di rumah sudah ada dua orang menunggu kedatanganku. Mereka sudah menungguku rupanya. Setelah berjabat tangan dengan sedikit basa-basi menanyakan kabarku, ia menanyakan bagaimana dengan desa itu. Ia menanyakan banyak tentang surat-surat sampai masalah perijinan dan sebagainya sampai pada akhirnya aku hanya mengatakan, aku masih begitu lelah dan ingin sekali beristirahat sejenak. Dan dua orang itupun segera pergi dengan rasa puas penuh kemenangan.


Pantai Anyar, 26 Desember 2003

­-HF-


***

"Tentala-tentala Ciptaan Tu`an…"

Negara ini terbentuk tidak tanpa tentara. Pasti dengan tentara. Itu realitas karena bagaimanapun juga para tentaralah yang banyak berperan dalam mempertahankan maupun memperjuangankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi bukan berarti masyarakat sipil tidak banyak berperan. Terlepas dari perdebatan tentara dan sipil, beberapa waktu yang lalu di negeri yang bernama Indonesia sedang mengadakan perheletan akbar, yakni pemilihan umum untuk menentukan siapa presiden dan wakilnya yang akan menjadi pemimpin negara. Katanya untuk menjalankan proses demokratisasi dimana setiap orang berhak untuk menentukan bakal calon presiden dan wakilnya itu.

Rakyat sebenarnya biasa saja menanggapi pemilihan presiden ini, karena rakyat sadar dalam hal ini ia tidak merasa banyak di untungkan. Ada yang lebih penting dari pada pemilihan presiden, rakyat lebih baik berfikir bagaimana agar mendapatkan makan hari ini. Toh sebenarnya rakyat tidak banyak terpengaruh dengan apa dan siapa presidennya, empat kali mengalami pergantian presiden ternyata rakyat masih juga di bohongi, rakyat masih juga miskin, pendidikan mahal, “walah kalau mau di bicarakan disini semuanya, pasti ndak cukup”.

Bisa jadi pemilihan umum kali ini merupakan ajangnya para tentara untuk bermanuver, yah itung-itung latihan bersama, plus reunian lah. Karena mereka yang mencalonkan sebagai presiden dan wakil presiden ini kan sebagian ada dari kalangan eks tentara. Sekaligus ajang unjuk kebolehan untuk para mantan jendral itu beradu strategi di mimbar terbuka.

Tapi kali ini posisi mereka sedikit sulit, karena mereka yang biasanya gagah dengan membawa senjata berwajah garang (bait lagunya iwan fals) kini tidak lagi. Padahal salah satu kebanggaan para tentara itukan bisa bawa senjata kemana-mana. Tentara yang dulu berlomba-lomba memoles penampilannya seseram mungkin biar kelihatan garang sekarang berbanding terbalik. Bahkan katanya sekarang “tentara lebih baik daripada ulama, dan lebih kiai daripada kiainya sendiri”. Lah ini bagaimana nanti kalau fungsi dan peranan mereka diambil alih oleh tentara? Bagaimana misalnya lulusan podok pesantren, kalau saja tentara lebih terpakai lulusannya dari lulusan pondok pesantren?, ya pikirkan saja sendiri, lah wong saya juga bingung kok.

Keponakan ku yang masih cedal, belum bisa menyebutkan huruf “R” ia pernah bernyanyi di acara ulang tahunnya, yang dihadiri oleh banyak tentara. Lantaran bapaknya juga seorang tentara. Ia menyanyikan lagu pelangi-pelangi dengan bait terakhirnya diganti atas suruhan orang tuanya, hanya akhirnya saja “pelangi-pelangi ciptaan tuhan” menjadi “tentala-tentala ciptaan tu`an”. Walaupun bait yang terakhir sebenarnya memiliki konotasi yang berbeda, karena dinyanyikan dengan menghilangkan huruf “H”, Tuhan menajadi Tu`an, tentunya keponakanku menyanyikannya dengan pernafasan yang tersengal-sengal. Tetapi kontan saja para undangan ramai tertawa mendengarnya lucu. Padahal kalau saja yang menyanyikannya orang yang sudah besar, pasti dijegal. Yah setidaknya tidak akan ditertawakan. Apalagi kalau dinyanyikan oleh mahasiswa yang sedang berdemonstrasi.

Melihat konotasi dari “tentala-tentala ciptaan Tu`an” adalah sebuah fenomena mengenai keberadaan para petinggi Negara ini bahwa apapun kebijakan yang diciptakan oleh para birokrat maupun petinggi negara itu berdasarkan kepentingan kelompoknya saja, termasuk juga tentara. Mana ada tentara yang melakukan tindakan represif terhadap tuan-tuannya sendiri. Yang ada adalah “dor…dor…dor…” timbullah peristiwa 12 Mei, “dor…dor…dor…” timbullah Tanjung Periok berdarah, “dor…dor…dor…” timbullah yang lainya dan yang lainnya. [hf]

Paris van Java, 2002

-HF-

Dalam Sebuah Keterasingan (Sebuah Refleksi Dari Desa)

Bagai sekuntum bunga pada wanginya.

Aku terikat pada kenangan samar tentangmu.

Aku hidup dengan perih yang mirip luka.

Jika kau sentuh aku, kau kan merusakku hingga mustahil di perbaiki.

(Il Postino—Antonio Skarmeta)



Pernah suatu hari dalam sebuah perjalanan pulang, saya melihat di pinggiran kota paling Barat pulau Jawa ini masih ada seorang petani tua yang tengah menggarap sawah. Seekor kerbau terlihat lelah yang terus di pacu oleh sang petani dipaksa untuk menarik bajak. Tidak banyak yang di bajak, hanya beberapa petak. Sudah beberapa tahun ini saya tidak lagi melihat para petani membajak sawahnya. Mungkin karena kemarau panjang yang tidak habis-habis atau malah para petani yang sudah bosan menggarap sawah karena hasil panen yang tidak menjanjikan. Tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang kian hari terasa semakin memberatkan.

Sebuah pemandangan yang sedikit memaksa perhatian saya untuk mengingat bagaimana sebuah potret masa lalu, tentang tanah yang dulu banyak mengantarkan saya kepada kehidupan yang sesungguhnya. Betapa tanah ini telah memberikan segalanya, dengan padi-padi yang menghampar, dengan nyiur yang kokoh menjulang, bunga-bunga menyebarkan wangi khas memberikan banyak harapan, yang menjadikan sebuah semangat juang untuk sekedar dapat mempertahankan kehidupan yang sungguh sementara. Anak-anakpun berlarian di pematang, sesekali kakinya tercebur. Mereka berebut untuk mengusir burung-burung perusak padi. Anak-anak begitu senang bermain-main di sawah. Sebuah keindahan yang tidak akan pernah terlupakannya.

Entah akan sanggup bertahan berapa lama lagi petani itu akan terus menggarap sawahnya, sementara pabrik-pabrik dengan gagahnya menjulang menampakkan wajah sinisnya. Tembok-tembok raksasa yang kian menghimpit menunjukkan kebesarannya di bawah sawah-sawah yang hanya tinggal beberapa petak. Belum lagi limbah-limbah pabriknya yang mengeluarkan bau bacin yang pembuangannya juga tidak pernah beres. Apa yang tengah di perbuat oleh manusia-manusia pabrik itu, sungguh telah benar-benar menjadi budak. Suasana di tanah ini sudah berbeda sekali, tidak ada ketenangan yang ada hanya ketegangan-ketegangan, kedamaianpun berwajah muram terancam oleh arus yang sangat besar yang membawa semuanya ke dalam mimpi indah yang di sebut modernisme. Tidak ada tradisi, kebiasaan adat istiadat tergadaikan, norma-norma sudah tidak berlaku lagi. Dan inilah kemuraman itu.

***
Pemandangan petani itu juga mengingatkan saya kepada cerita seorang penulis, seorang budayawan Umar Kayam yang menceritakan tentang Mandra yang seorang penduduk desa Kamasan, sebuah desa kecil di daerah Klungkung Bali. Mandra adalah warga biasa dari satu desa, yang seperti berratus desa lainnya di Bali sangat pertanian sifatnya. Dia bercocok tanam, dia melukis, dia menolong menyelesaikan detail lukisan rekan-rekannya yang kurang mahir, dia mengajar melukis anak-anak desanya yang ingin belajar melukis, dia ikut menabuh gamelan pada waktu pesta-pesta upacara di desanya, dia ikut membantu menghias pura pada waktu odalan. Pendek kata, dia adalah warga yang lengkap dari satu kosmos kecil yang bernama Kamasan, dan dari satu kosmos yang lebih besar yang di sebut Bali.

Mandra memanifestasikan kesenian sebagai satu cara manusia untuk menata kembali, menafsir kembali kehidupan lewat berbagai imaji dengan cara yang dirasakan paling mesra. Betapa tidak, sehari-hari dia tidak pernah lepas dari bahasa kehidupan lingkungannya. Penyerahannya yang total terhadap tuntutan desanya yang masih tradisional itu, dia jabarkan dengan setianya, baik kepada tuangan lukisannya maupun kepada sikapnya sebagai seorang seniman. Tidak satupun dari lukisannya itu yang tidak bercerita tentang kehidupan lingkungannya. Cerita-cerita Mahabharata, Ramayana, Bayut, Suthasoma, imaji-imaji kosmis, kodok-kodok, burung-burung, ikan dan kura-kura—satu rentetan yang seakan tiada habisnya. Dia menata kembali kehidupan Kamasan dalam kanvas blacunya.

Dalam setiap lukisan yang Mandra selesaikan, para warga desa Kamasan yang menghayati lukisan tradisioanal akan menyatakan sesuatu lukisan itu “indah” atau “buruk” atas dasar rasa “senang” atau “tidak senang” sesudah dia menimbang kaitan unsur-unsur bentuk itu adalah rangkaian imaji yang sebelumnya sudah terjalin antara unsur-unsur yang membangun kosmos Kamasan itu. Maka kalau warga desa Kamasan menyatakan bahwa lukisan itu adalah representatif dari rangkaian unsur-unsur yang membentuk Bima Swarga itu cocok dengan imaji yang telah mereka perolah sejak kecil lewat berbagai macam penghayatan. Seketika mereka merasa senang, karena mungkin mengenali kembali Bima yang penuh dengan emosi mengosak asik kayangan mencari bapaknya, menuntut penjelasan dari para Dewa. Bila mereka tidak mengolah kembali imaji Bima yang begini, maka mungkin sekali mereka itu akan segera saja merasa tidak cocok, tidak senang, dan akan menyatakan lukisan itu buruk.

***

Kalau kita mencoba renungkan baik-baik, maka apa yang menjadi kecocokan antara warga desa Kamasan dengan lukisan Mandra itu adalah persesuaian antara penghayatan warga desa itu tentang kehidupan dunia Kamasan dengan penterjemahan Mandra tentang dunia Kamasan. Jadi apresiasi di lingkungan seperti itu adalah konfirmasi. Dalam satu lingkungan dimana keseimbangan antara unsur-unsur yang mendukungnnya itu dijamin oleh ikatan agama beserta ritusnya dan bentuk mata pencariaan yang tidak rumit bahkan hampir manunggal (pertanian), maka apreasi seni yang bersifat konfirmasi terhadap keutuhan lingkungan, dimungkinkan. Apresiasi seni dengan demikian “dengan sendirinya” hadir. Dan yang memungkinkan ini adalah rangkaian ikatan agama dan pertanian itu. Maka bagaimana pun jenius seorang Mandra itu, dia akan selalu melukis tentang simbol-simbol mitos dan flora dan fauna lingkungannya.

Berbeda dengan kehidupan Mandra di desa Kamasan sebuah daaerah kulungkung Bali, yang menerjemahkan kehidupannya dengan kanvas-kanvas. Di pinggiran kota ini tidak ada lagi potret “keindahan” yang terekam. Sebuah gambaran keindahan yang menjadi identitas sebuah kehidupan bermasyarakat, semuanya menjadi aneh, samar dan menjadi asing. Yang ada hanya berserakan kandang-kandang kerbau sudah tidak terpakai yang di penuhi semak. Yang kemudian muncul adalah tafsir-tafsir keindahan baru, identitas-identitas baru yang sebenarnya patut juga dipertanyaan, sebuah representatif dari kebiasaan-kebiasaan asing yang sebenarnya juga keberadaaannya sangat dipaksakan.

Lantas bagaimana dengan sebuah penghayatan akan sebuah rasa “keindahan” yang menuntut kejujuran dan ketulusan yang keluar dari setiap orang. Seperti juga dimana-mana, rasa dan penghayatan “keindahan” itu lahir dari rasa “senang” yang muncul sesudah melihat kaitan unsur-unsur tertentu. Atau menurut Sir Herbert Read, guru besar dan pengamat kesenian yang terkenal dari inggris, keindahan adalah kesatuan dari hubungan-hubungan resmi antara rasa penghayatan kita. Manusia selalu cenderung menanggapi dengan inderanya, apa-apa yang terpapar di depannya. Apa-apa itu yang memiliki bentuk dan unsur-unsur yang menyangka bentuk itu mungkin sekali akan memberikan rangsang “rasa senang” atau “cocok” kepada si penghayat itu. Pada waktu ia merasakan “senang” atau “cocok” itu, saat itulah ia melihat “keindahan” dari benda itu. Sebaliknya, pada waktu ia merasa “ tidak senang,” “tidak cocok,” maka dia melihat “keburukan” benda itu.

Akh, di pinggiran kota ini semuanya menjadi asing, saya melihat ada banyak hal-hal aneh yang membentuk seperti kegelisahan yang sangat. Mesin-mesin besar, raksa-raksa berwajah bengis telah menggantikan sebuah nilai-nilai kearifan lokal. Manusia menjadi kehilangan makna hidup disebabkan begitu sombong telah meruntuhkan tradisi. Kini tradisi telah benar-benar terdorong ke bibir-bibir marjinalitas, sehingga nyaris tidak mampu untuk sekedar memperdengarkan pekik-pekik keindahan dan kesakralannya. Dimanakah kemudian hakikat alam dapat di temukan, dimana nilai-nilai dasar tentang keindahan yang sesungguhnya dapat dirasakan.

***

Sebenarnya Mandra dan petani tua itu memiliki kesamaan, yang menekankan pada pemaknaan terhadap kebiasaan pola hidup masyarakat. Bagaimana kehidupan ini dapat dimaknai lebih dari sekedar berkesenian, bahwa kehidupan lebih dari sekedar mengolah sawah untuk ditanami dan kemudian di panen, tapi lebih dari itu sebuah tanggung jawab kolektif mengharuskan untuk tetap menjaga dan merawat tanah ini tidak hanya untuk saat ini saja, tapi jauh kedepan bahwa ini adalah tanggung jawab besar untuk dapat terus di pertahankan dan di rawat dengan baik sampai nanti dan lama.

Sesekali tradisi dan kebiasaan tidak melulu dianggap menjadi hal yang membuat manusia menjadi sadar terhadap keberadaan yang sakral karena ia memanifestasikan dirinya, menunjukkan dirinya, sebagai sesuatu yang berbeda secara menyeluruh dari yang bersifat profan. Tetapi sebuah gambaran masa lalu yang merasa mewakili pola kehidupan sebuah masyarakat, dapat menjadikan representatif dari kagiatan-kegiatan yang telah dan akan di lakukannya.

Manusia yang hidup dalam masyarakat yang arkais cenderung hidup sebisa mungkin dalam kesakralan atau dekat dengan objek suci. Maka atas dasar itulah Mandra dan sang petani tua itu terus membangun sebuah kebiasaan lama yang sarat akan nilai-nilai untuk mencoba tetap berada dalam kekonsistenan dan dijadikannya semua itu sebagai sebuah sikap hidup dan sebuah pilihan hidup.

Sampai akhirnya saya melihat petani tua itu berjalan menyusuri pinggiran jalan raya yang kanan kirinya di apit oleh pabrik-pabrik kimia dan pabrik-pabrik baja serta pabrik-pabrik besar lainnya yang berjejer di seturut jalan. Dengan memikul bajak di pundaknya petani tua itu tetap mengarahkan kerbaunya untuk tetap berjalan dipinggir jalan yang banyak berseliweran mobil-mobil besar-kecil yang mengeluarkan asap hitam mengepul mengibaskan debu-debu. Dengan rasa penuh keterasingan akhirnya saya melambaikan tangan dan mengucapkan salam perpisahan kepada petani tua itu. Selamat jalan pak tani semoga kau sehat selalu dan senantiasa dalam keadaan baik-baik saja. Semoga..... [hf]

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Jurnal Basement, Univ. Pasundan Bandung

Cilegon-Selat Sunda November 2004

-HF-

-Dialog Si Pino-

“Ibuuuu”, teriak anak kecil dengan tangan menunjuk ke depan,

“Ada apa?” sang ibu menyahuti datar…

“Lihat orang itu, kenapa orang itu? orang itu hidungnya seperti pinokio”

Sontak sang ibu cemas dengan perkataan anaknya, “huss, kamu jangan berkata begitu”
tapi anaknya masih saja bertanya

“Tapi ibu, katanya orang yang hidungnya bulat panjang seperti pinokio dia orang yang suka berbohong”

“Sudah kamu jangan rewel, entar ibu kasih tahu dirumah”

“Ih, lihat ibu, orang itu bukan hanya hidungnya yang panjang, tapi perutnya juga gendut, seperti badut yang banyak di korsel-korsel”

Sang ibu celingukan memastikan bahwa yang telah dibicarakan anaknya tidak ada yang mendengarkan

“Ibu-ibu…, ibu harus janji kalau nanti sudah sampai rumah ibu harus menceritakan tentang orang itu”

Sang ibu sudah tidak tahan dengan kerewelan anaknya, kemudian ditariknya tangan si anak meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan anak itu masih tetap terus cerewet menanyakan orang yang hidungnya panjang.

“Iya nanti dirumah ibu ceritakan” sang ibu menenangkan

“Iya tapi kenapa mesti di rumah, kan sambil jalan aja ibu bisa bercerita”

“Sudah kalau kamu nakal ibu tidak akan mengajakmu lagi” si ibu mulai berang dengan pertanyaan anaknya yang masih juga menanyakan orang yang hidungnya panjang.

Anak kecil itu kontan saja terdiam, di raut mukanya terlihat ia begitu kecewa sekali dengan ibunya. tapi anak kecil itu tidak putus asa, malahan ia ingin sekali cepat-cepat sampai rumah, ia ingin menanyakannya dirumah sesuai janji ibunya di jalan tadi.

Sampai rumah sang ibu menepati janjinya. “Setelah ibu ceritakan kamu harus tidur yah?”, ujar sang ibu. Kemudian sang ibu menceritakannya banyak sekali. Sang ibu bercerita bahwa orang yang tadi ketemu di jalan itu, ia dulu seorang yang sangat hebat dan kaya sekali, ia seorang pemimpin di negeri ini, kekayaannya sangat bertumpuk. Semua orang mengenalnya, semua orang patuh padanya. Saking banyak kekayaannya sampai ia lupa kalau hampir setengah dari negeri ini ia yang punya. Bukan hanya kekayaannya yang begitu banyak, tetapi ia juga memiliki kekuasaan yang sangat berpengaruh.

Di mata masyarakat orang itu baik sekali, ia sungguh dermawan tidak sedikit ia memberikan sumbangan-sumbangan, untuk jalan, masjid dan tempat-tempat peribadatan, dan santunan-santunan anak-anak yatim. Perangainya juga tidak sombong, suka senyum kalau bertemu orang banyak, apalagi kalau di sorot oleh media, ia begitu kelihatan bersahaja dan berwibawa, pembawaannya tenang sekali.

Tapi suatu ketika ia tersandung permasalahan, ia diketahui menggelapkan uang banyak sekali. Uang itu milik negara, tapi ia pakai untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya. Ia sempat di adili tapi pengadilan membebaskannya.

“Berarti dia tidak bersalah dong bu” Tanya anaknya menyela,

“Iya itu kan menurut pengadilan”

“Tapi ibu, bukannya memang pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memutuskan orang bersalah atau tidak”, anaknya bingung dengan perkataan ibunya yang terakhir.

“Dia kan orang kaya, dan banyak pengikutnya. Pengikutnya, yah termasuk orang-orang di pengadilan itu”

“Tapi bu, dia kan juga orang baik, suka memberikan sumbangan” anaknya masih tidak percaya,

“Tapi orang itu mulutnya bauuuu sekali, kalau ngomong pasti berbohong, termasuk juga kalau ia memberi. Makanya orang itu hidungnya panjang dan perutnya buncit”

“Lagian kalau orang itu baik, mana ada rakyat yang miskin. Dia kan seorang pemimpin, seharusnya seorang pemimpin kalau dirinya kaya rakyatnya juga harus ikutan kaya. Begitu juga sebaliknya, kalau rakyatnya miskin pemimpinnya tidak boleh memperkaya diri” sang ibu menambahkan.

“Iya juga bu yah, kalau rakyatnya makmur dan kaya-kaya kan secara otomatis juga pemimpinnya akan kaya”

“Biar bu, kalau nanti bertemu orang itu lagi, selagi ia bicara aku akan kentut secara diam-diam”

“Huss, kamu jangan macam-macam dengan orang itu”

“Biar dia tahu kalau mulutnya bau seperti kentut yang keluar dari pantat” ujar si anak

“Udah-udah lebih baik kamu tidur sekarang”

Di elusnya kepala si anak penuh kasih. Dengan perasaan berat hati sang ibu terpaksa menceritakan keadaan negeri yang sangat memprihatinkan ini kepada seorang anaknya yang masih sangat kecil.

Tulisan ini pernah dimuat dalam Tabloid Jumpa, Universitas Pasundan Bandung

Cikutra—Bandung September 2004

-HF-

Friday, February 15, 2008

!!-Almost Lose Him-!!

Malam ini entah kenapa, tiba-tiba susana hati mellow banget...Mungkin gara-gara nonton film jadul "At First Sight", ditambah lagi kangen banget ama Oppa, secara udah hampir 3 bulan gak ketemu. Padahal hari ini bukan hari yang 'buruk' buat gue. Proposal thesis dah di acc pembimbing 1 (finally), dan proses ke pembimbing 2 yang akan gue mulai senin nanti katanya gak seribet pembimbing 1...Tapi entahlah..malam ini mellow aja.

Inget beberapa malam lalu, gue berantem gede ama Oppa, gak lama sih karena gue nyadar sikap dan tingkah gue emang 'overact' banget. Setelah beberapa lama berdebat, kemudian Oppa dah mengeluh bahwa dia udah 'akan' capek dengan sikap dan tingkah laku gue yang 'lebai, "Oh God, how could i be so annoying?"
I have to admitted that he's a very nice guy, full of patient...but still, he's a man, that have a selfregard, he won't let someone disregard him, and i could be the one, coz yes..i'm a stubborn.


Temen deket Oppa pernah bilang kalo gue beruntung bisa dapet Opa, karena Oppa sabar banget, sabarnya di luar kewajaran seorang laki-laki..mungkin karena dia dibesarin di sebuah keluarga yang kebanyakan cewek, dan sangat menghargai pentingnya "SABAR". Dan kalo gue inget hari itu, hari pertengkaran hebat kita, gue jadi merinding sendiri, sadar kalo selama ini gue udah bener-bener takabur, merasa bahwa "It's allright if you leave me..i can continue my live afterward", egois? betul-betul egois. Memang kalo bicara jodoh atau soal yang terbaik buat kita, itu semua udah ada garisnya...tapi sepertinya kalo kita gak berusaha keras atau yang terbaik, kita gak akan dapet yang terbaik..ya kan??

Jelas-jelas gue yang salah malam itu, dan gue dah minta maaf beribu-ribu maaf, dan janji untuk bisa berubah, besoknya kita ngebahas apa yang tejadi malam itu lewat telepon, selesai telepon, eh..malah Oppa sms:
"Maaf nda, jika ternyata dalam perjalanannya a mengecewakan. Maaf..Tapi dalam selanjutnya a masih ingin nda menemani a.. mengurai arti kedewasaan dengan nda..Suxes ya tesisnya.."

God....he really a blessing, and today, he still is....Thank you God for this. And thank you Oppa for everything that you gave for us..
So...mungkin malam ini guwe jadi mellow karena membayangkan, seandainya gue gak mau ngalah malam itu, seandainya gue keukeuh dengan 'pundungan'nya, seandainya gue tutup telepon tanpa menyelesaikan masalahnya, mungkin kebersamaan ini akan selesai..karena malam itu, I almost lose him....

15 Februari 2008
NewYorkarto, penuh dengan kerinduan...

-AAR-



Thursday, February 14, 2008

=Segenggam CInta Untuk Dhania=

Nda, aku datang kembali kepadamu. Ini aku bawakan segenggam cita dan harapan yang baru. Mungkin tidak lebih dari itu. Karena selebihnya aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu. Nda, tak terasa kebersamaan kita sudah mulai lama, kebersamaan kita sudah semakin tumbuh dengan subur. Tak terasa kita sudah banyak melewati waktu dengan bersama. Dengan keceriaan, tawa, serta candanya nda, rasanya hari-hari terlewatkan dengan indah. Meskipun kerap kita jumpai kesedihan, tangisan, serta persoalan-persoalan yang kemudian membuat kita menjadi sama-sama merunduk untuk dapat merenenungkan kembali kebersamaannya, namun semuanya tidak lantas mengendurkan semangat kita agar bisa menggapai cita, cinta serta harapan yang sudah kita sepakati.

Nda, mimpi kita adalah hidup bersama dalam keluarga yang kelak kita bangun. Rumah yang nyaman, dengan taman bunga dan Lexus yang dandy. Setiap kali akhir pekan, kita akan melewatkannya bersama dengan anak-anak kebanggaan kita. Sementara nda kerepotan mengurus anak-anak yang bermain, aku hanya tersenyum. Senyuman dengan penuh kegembiraan. Sepertinya aku tidak sabar ingin segera mimpinya terwujud nda. Nda, sekarang kita mari berdoa, memohon untuk mimpi-mimpi kita yang indah itu. Kita memejamkan mata, meminta kepada Allah SWT, agar semuanya laksana.

Nda, maaf kalau sampai hari ini aku hanya bisa mencintaimu. Belum lebih.

-HF-

Paris van Java 14 Februari 2008

+Menunggui Kelulusan+

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa juga sudah tujuh tahun aku masih saja tidak beranjak dari kampus ini. Sepertinya waktu masih belum mau beranjak untuk menghukumku. Entah apa yang tengah dipersiapkan sang waktu untuk perjalanan selanjutnya. Sementara dipenghujung akhir masa-masa di kampus, sesekali ada rasa kerinduan yang terasa menakutkan. Kampus ini sepertinya masih ingin menghukumku dengan caranya. Kebersamaan dengan beberapa kawan baru yang aku temui dalam proses skripsipun semakin terasa sayang untuk ditinggalkan. Tujuh tahun di kampus ini memang banyak mengisi cerita-cerita perjalanan yang terkadang melelahkan, namun disisi lain dari sinilah aku memulai perjalanannya.Berangkat dari sebuah ruang kelas yang dulu di awal-awal masa kuliah, aku selalu menghujat bahawa ruang kelas ini sudah harus ditinggalkan. Beberapa teman memujiku, namun tidak sedikit yang memperolok. Aku tidak percaya dengan ruang kelas dapat memberikan pelajaran yang banyak. Di luar sana kita dapat melihat dan membaca banyak ilmu daripada di ruang kelas ini. Sebagian besar dosen hanya geleng-geleng dengan sikapku ini namun beberapa ada yang memberikan semangatnya.

Jumpa, sebuah lembaga tempat penyaluran minat dan bakat bagi mahasiswa akhirnya tempat yang kupilih untuk bisa menemani perjalananku selanjutnya. Di Jumpa, aku bukan saja berjumpa dengan teman-teman yang kelak menjadi sebuah saudara sejati bagiku, di Jumpa aku banyak bersahabat dengan teman-teman yang lain, bukan hanya di kampus, namun di luar, di kampus-kampus lain, di kota-kota lain aku membangun persahabatan yang lebih besar. Di Jumpa juga aku diajarkan untuk bisa berjuang, juga berkarya. Kelak dikemudian hari dari Jumpa lah aku dapat memuai perjalanan yang sesungguhnya.

Perjalanan itu masih akan aku lalui. Ada banyak cerita yang sudah aku tuliskan, dengan meninggalkan kesan nya tersendiri. Begitu juga dengan beberapa orang yang telah aku temui. Perjalanannya begitu indah. Perjalanannya begitu berkesan. Sampai ketika harus tersadar keindahan itu seolah abadi, seolah tidak meninggalkan titik-titik noda yang mengotorinya. Dan perjalanannya akan terus aku lalui.

Akhirnya perjalanan selanjutnya adalah menunggui kelulusan, sembari berbenah dengan juga mengintip sang waktu yang tengah mempersiapkan kehidupan selanjutnya. Untuk itu sepenuhnya aku hanya bisa sujud, berdzikir, serta berdoa untuk dapat ditunjukkan langkah yang kelak aku lalui.

Bandung, Februari 2008

Friday, February 1, 2008

Bangsa yang Repot

Ada yang berteriak karena merasa perlu berteriak. Ada yang diam karena tidak tahu bagaimana caranya bicara. Kasus demi kasus tidak bisa diselesaikan dengan baik. Rakyat miskin semakin di dzolimi. Presiden dihujat dengan sepenuh urat syaraf. Sebagian lagi menjilat sampai ke pantat-pantat. Sementara para cerdik pandai, alim ulama dan kaum teknokrat berakrobat unjuk gigi dengan angkuhnya memposisikan dirinya bak Imam Mahdi yang membawa angin segar.

Begitulah bangsaku yang repot. Persoalan-demi persoalan datang tak diundang dan dengan tiba-tiba bisa saja pergi tanpa jejak. Padahal entah sudah berapa pakar yang memberikan masukan, namun tetap saja tidak selesai. Dari mulai profesor doktor, aktifis, sampai tukang becak semuanya turut andil dalam memberikan sumbangsihnya. Sungguh bangsa ini semestinya menjadi bangsa yang besar. Dengan sumber daya yang dimiliki, selayaknya bangsa ini menjadi bangsa yang selalu berada didepan.

Sejarah panjang bangsa ini seolah berlalu begitu saja. Konon dalam cerita-cerita disebutkan bangsa ini adalah bangsa yang arif. Bangsa ini adalah bangsa yang syarat dengan nilai-nilai falsafah. Keadaan alamnya yang membentang dari ujung keujungnnya diterjemahkan kedalam sebuah prilaku yang elok. Kehidupan berdampingan dengan harmonisasinya yang wajar. Tidak ada yang saling mendominasi antara satu dengan yang lainnya. Semuanya rukun dalam sebuah kesahajaan yang sederhana.

Tapi sudahlah...Sekarang bangsa ini sudah melampaui keanehannya. Dimana batasan-batasan sudah menjadi buram. Sehingga salah, benar, baik dan buruk menjadi bukan sebuah persoalan. Tubruk menubruk satu dengan yang lainnya menjadi biasa karena dianggap wajar dalam sebuah kehidupan. Bangsa ini sungguh sudah menjadi bangsa yang repot. Bangsa dengan segala macam persoalannya. Bangsa dimana sistem tata kehidupan tidak pernah berjalan dengan wajarnya.

Bangsa ini semestinya bisa bersila, duduk melingkar bersama-sama, berhadapan satu sama lainnya agar bisa membelakangi dunia, sejenak menomor duakan persoalan-persoalan agar tidak diperbudak oleh persoalan-persoalan. Agar bangsa ini bisa guyub. Saling bertatapan satu sama lain, saling menyapa membicarakan setiap persoalannya dengan bermusyawarah untuk mencapai kemufakatan bersama. Agar bangsa ini tidak memelihara rasa senang dan rasa tidak senang terhadap sesuatu. Bangsa ini mesti menghargai setiap proses, bukannya melihat sebuah hasil baik dan buruk. Bangsa ini tidak boleh memelihara kebencian terhadap apapun, sudah semestinya bangsa ini bangsa yang bisa mengibarkan merah putihnya kepada segenap tumpah darah rakyatnya, dan bhineka tunggal ika menjadi cita-cita seruan bersama.

Sampai akhirnya aku harus menyudahi tulisan ini dan kembali ke dalam bangsa yang repot. Ada skripsi yang tengah menanti untuk diselesaikan, dan mungkin juga seorang perempuan, bahkan kopi hangat dan sebatang cerutu. Dan untuk bangsaku yang repot, kelak aku beserta anak cucuku ingin melihat bangsaku sudah tidak menjadi bangsa yang tidak repot lagi. Semoga saja. Aku selalu mendoa untuk bangsaku. Salam hormat.

Paris Van Java Januari 2008

-HF-

(Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Mingguan Jumpa Pos edisi Nomor 42 Tahun XII. 30-4 Februari)



Tuesday, January 8, 2008

^A Choice I Lay With^

Dearest dear....

Day by day walk by, along with those day, i'm sure that there's God's hands arrange us beyond

Just like my faith that ensure me how i love you more and more each day.....

Someday I might be melt along with those melting dow, deminished untracked

or someday i might be stand next to your missable body, build our hope with blessings.

That a lot of things that we have to discuss further, it's only a ritual in a relationship journey

and just like what we've discussed before, that our struggles was nothing beyond this journey itself..and it might be zero step.

A choice that i've had to choose is depends on how we can fulfill our dreams

Because those choice will determine our life further. Altohugh dear...sometimes i feel miserable

but sometimes i feel happy with you by my side.

Fights, tears, laughs, smiles, words, songs, prays, letters...came along in our days.

I don't want to regret everything...and please God don't let me regret this...

I want to spend my lifetime with you i lay with...

January 2008

-AAR-

*Menerjemahkan Kasih dan Sayang*

Yups, beginilah salah satunya menjabarkan dari rasa kasih dan sayang. Menyalakan komputer dan mulai menuliskan sesuatu untuk di posting di blog nya. Ini hanya salah satu saja bentuk dari ekspresi kasih dan sayang, masih banyak lagi bentuknya yang lain. Bahkan terkadang tidak melulu yang indah-indah. Ada yang lebih jujur, misalnya saja--Maaf "Mbull", ini juga sama, ekspresi dari kasih dan sayang, karena di ucapkan dengan penuh cinta yang jauh dari tendensi untuk membenci apalagi "Mbull" juga diucapkan jauh dari rasa tidak suka.

Lebih jauh, menerjemahkan kasih dan sayang juga bisa dengan hasrat, niatan baik untuk bisa di wujudkan secara bersama-sama. Dalam konteks ini kasih dan sayang perlu dijabarkan dengan komitmen dari semua fihak yang ingin terciptanya kasih dan sayang. Untuk itu, menerjemahkan kasih dan sayang dibutuhkan kedewasaan, serta kebijkasanaan.

Untuk kekasihku, maaf--ternyata kita masih perlu menerjemahkan kasih dan sayang kita, yang awalnya terdengar begitu sederhana..

Cilegon, 05 Januari 2008

-HF-

Tahun Yang Baru

Suasana begitu gebyar penuh suka cita. Warna-warni kemeriahan pesta begitu terasa dimana-mana. Muda mudi hiruk pikuk tertawa, bergerombol. Suara terompet awal tahunpun bersahutan dengan indahnya kembang api, meskipun tahun baru kali ini di dera musim penghujan, namun sepertinya tidak menyurutkan meriahnya penyambutan atas tahun yang baru.

Begitulah suasana penyambutan pergantian tahun. Lantas pertanyaanya adalah apa sebenarnya yang mesti dilakukan dengan tahun yang baru? Sehingga banyak orang, terutama bagi mereka anak-anak muda, perlu menyambutnya sedemikian rupa, bahkan terkadang sepertinya begitu berlebihan. Adakah yang istimewa dengan tahun yang baru? kalaupun ada yang terasa istimewa di tahun yang baru, lantas apa hubungannya dengan tahun yang baru? bukannya semua itu karena faktor sang waktu yang terus berjalan? jadi baru atau tidaknya tahun tidak banyak mempengaruhi setiap femonomenanya?

Tapi baiklah, sepertinya kita tidak perlu begitu ngotot memperdebatkan tahun yang baru ini. Bagi saya, tidak begitu penting apakah tahun ini menjadi baru atau tahunnya masih yang lama, karena itu hanya proses kerja yang bersifat mekanistik saja, yang bergerak seperti robot yang di stel. Bagi saya, terus mencoba untuk memaknai setiap aktifitasnya agar dapat ternikmati menjadi lebih penting ketimbang memikirkan tahun yang baru. Bahwa kehidupan sesungguhnya sangat sayang untuk dilewatkan dengan tanpa menyadarinya[]

Refleksi akhir tahun, selamat datang tahun yang baru...

Cilegon, 01 Januari 2008

-HF-

Thursday, January 3, 2008

Happy New Year.....

Fuhhh, gak kerasa tahun 2007 udah kelewat, dan Alhamdulilah tahun 2007 bisa kami lalui dengan baik-baik saja tanpa kekurangan apapun, meski negeri ini diguncang hebat oleh berbagai macam bencana alam, musibah, dan kecelakaaan tansportasi darat-laut-udara-terutama bencana alam yang melanda negeri ini di akhir tahun 2007...bagaimanapun semuanya sudah digariskan Tuhan.

Tanggal 31 Desember pagi kemarin, guwe bokap n nyokap pergi ke Jakarta untuk nengok nenek (setelah sekian waktu sudah lumayan kondisinya, tanggal 30 Desember kemarin kita ditelpon tante di Jakarta ngabarin kalo nenek nge-drop lagi). Hari itu keluarga besar Raintung ngumpul, secara malemnya pergantian tahun..tapi bokap-nyokap emang rencananya gak taun baruan d Jakarta. Dan guwe, atas desakan sepupu-sepupu, nginep dan taun baruan di Jakarta. Malam itu kita putuskan untuk melewati malam taun baru di Citos, dan kami berlima pun berangkat... wew... guwe yang notabene dari kampung, kaget ngeliat orang tumplek blek di dalam satu mall. Entah apa tujuan mereka, dan entah juga apa tujuan guwe ikutan kesitu..yang guwe pikirkan saat itu adalah "it doesn't looked like my lifestyle". Malam itu Citos seperti suasana klub-klub malam tempat anak-anak muda gaul clubbing..diiringi lagu yang menghentak-hentak, memaksa tubuh untuk bergoyang..lampu-lampu sorot berwarna-warni liar menjelajahi seisi mall ini, kemudian manusia-manusia di dalamnya yang berasal dari berbagai macam suku bangsa, pakaian, gaya, dandanan...Komunikasi dilakukan dengan teriak-teriak kayak di alas roban, gak kedengeran. Saat itu guwe ngerasa bahwa guwe tidak sedang berada di Indonesia, maklum kelamaan tinggal di Yogyakarta, dan cuma sekali clubbing, dan itupun di Yogya, sekalian nonton konsernya Samson.

Gak lama kemudian, sirene berbunyi...sepupu guwe bilang..."sexy dancer nya keluar...", hah?? pake sexy dancer?? security Citos pun sibuk menghalau pengunjung, supaya gak berhenti dan melototin tuh sexy dancer yang akan mengakibatkan pengunjung di belakang kita gak bisa jalan karena macet..yah pak..namanya juga pertunjukan, pertunjukan ngapain diadakan kalo bukan buat ditonton...nah untuk perlakuan dari security nya, sepupu guwe yang paling kecil sewot banget...guwe cuma senyum-senyum aja, dan bilang "gimanapun mereka melakukan tugas yang udah dikasih ma bos mereka, dan kalo mereka gak ngejalaninnya, bisa-bisa mereka disemprot, tau 'ndiri kalo dah menyangkut keamanan dan pengamanan pasti mereka ngerasa yang paling bener dah.....". Tapi yang guwe liat bukan sexy dancer, melainkan skinny dancer, karena dancer-dancernya kurus-kurus banget, dengan pakaian yang emang seksi..dengan tema tarian yang juga gak jelas...

Hampir 1 jam bolak balik nyari tempat duduk, akhirnya dapet juga di sebuah kafe kopi gitu..dan malam itu guwe lewatin dengan datar-datar aja, badan guwe saat itu emang ada disana, tapi gak jiwa guwe, berkelana nyampe ke Serang..berangan, mungkin lebih enak, asik, dan nyaman kalo guwe ada di Serang ama bokap nyokap, atau ama Oppa..karena memang saat itu guwe ngerasa bener-bener gak nyaman. Saking gak nyamannya, ntah karena masuk angin plus kebanyakan makan yang macem-macem, malem itu guwe mabok, beberapa kali muntah-muntah..tapi bukan karena minum alkohol. Duh Gusti..pengen pulang....hiks hiks hiks...! Alhasil, isi perut guwe habis dalam tiga ronde huek-huek satu malam..hehehehehehe..

Hmm, gaya hidup udah memaksa kita untuk menjalani hal-hal yang sama sekali bukan kebudayaan kita, tapi ini budayanya kaum hedonis..bersenang-senang...ketika jam menunjukkan pukul 24.00, kita menghitung mundur..sampai lewatlah tanggal 31 Desember 2007 menjadi 01 Januari 2008, semua terompet yang ada dibunyikan, beberapa bartender menyemprotkan whiskey ke pengunjung, sebuah jaring berisikan puluhan balon dilepas, yang denger-denger di dalam balon itu ada door proze nya..tauk bener atau nggak. Lalu setelah itu??? Bingung jadinya, niat guwe mau menanti taun baru, tapi malah terdampar di tempat antah berantah yang gak sreg ama guwe, melongo liat gaya hidup muda mudi masa kini yang...yang apa yah???

Yah, memang setelah melihat pertunjukan pergantian tahun, lalu kita mau apa?? pulang, dan bertingkah laku seperti hari-hari kemarin? melewatkan malam sampai pagi dengan kekasih atau teman-teman tercinta, habis itu tidur karena kecapekan dan bangun dengan semangat yang sama aja dengan kemarin-kemarin? hmmm entahlah....

Yang jelas hidup harus dilewatkan dengan bervariasi, dan dalam setiap tahunnya mesti ada resolusi, untuk memacu kita mencapai hal-hal tertentu yang kita inginkan sesuai dengan target. Dan ketika mama nanya resolusi guwe tahun ini, guwe jawab "lulus...kerja...dan nikah"..mama pun tersenyum dan mengatakan.."kalo begitu harus ngoyo biar tercapai.."..amin ya mam..

So for all of you, Happy New Year 2008..May God Always Bless Us..Coz whatever happened, it won't happend without God's plans..as a human being, we only could hope that God will always give us strength, faith, love, blesses, and health to get through those plans... Amien.


Serang, 02 Januari 2008

-AAR-