Monday, October 8, 2007

Grandma...Get Well Soon

Guwe lahir dari keluarga campuran Toraja-Pontianak, yang sekarang tinggal di Serang, dan menimba ilmu di Yogyakarta. Hampir jadi anak seribu pulau, hehehehe. Orangtua guwe kerja di wilayah Banten, tapi keluarga besar guwe nyebar ampe Laos. Kakek-kakek guwe dari kedua belah pihak dah lama meninggal...dan guwe masih punya nenek-nenek di Jakarta-Palopo (Sul-sel) keduanya dari bokap, dan satu lagi di Pontianak dari nyokap.

Guwe deket dan sangat menyayangi nenek-nenek guwe itu, dan pastinya selalu berdoa untuk kesehatan mereka. Tapi sekitar 2 bulan yang lalu, nenek Jakarta kena stroke, beliau nyokap kandung bokap guwe. Karena saat itu guwe lagi di Yogya, info cuma dari nyokap/bokap
lewat sms ato telpon, waktu itu keadaannya masih lumayan, masih bisa jalan, walopun kalo ngomong agak kaku, tapi masih bisa diajak ngobrol.
Waktu itu beliau masuk RS, sekitar 1 minggu dirawat beliau keluar, dan menjalani terapi pemulihan di rumah tante guwe...

Sayangnya, selang 2-3 minggu nyokap ngasih tau kalo nenek masuk rumah sakit lagi, dan kali ini keadaannya lebih parah. Gak bisa jalan, ngomong susah, anggota badan sebelah kanan lumpuh..Di Yogya guwe cuma bisa berdoa, semoga aja nenek cepet pulih, dan diberikan yang terbaik lah...Di Yogya juga guwe cuma bisa inget, pas guwe mau berangkat ke Yogya 3 bulan yang lalu, kita sempet ke Jakarta, dan nenek ingetin guwe untuk selalu doain beliau, dan dengan mata berkaca-kaca nenek bilang semoga aja beliau masih bisa ngeliat guwe nikah..Amin ya Nek... =(

Jumat tanggal 28 September kemaren guwe pulang ke Serang, nyampe Sabtu subuh, dan jam 10 langsung berangkat ke Jakarta. Rutinitas bokap-nyokap guwe sekarang tiap sabtu minggu ke Jakarta, liat keadaan nenek. Dan akhirnya guwe bisa ketemu nenek hari itu, beliau berbaring di atas kasur yang dialasi perlak, gerakannya lemah..saat itu guwe pengen nangis banget, tapi guwe tahan-tahan. Sedih liat keadaan nenek, yang terakhir ketemu guwe 3 bulan yang lalu gak kayak gini..(Sungguh Allah memiliki rencana atas hambanya, kun fayakun..). Guwe cium tangannya, keningnya..kita cuma bisa saling menatap bokap guwe bilang.."Mak, acit kemaren juga ulang tahun..", nenek cuma bisa mengerjapkan matanya lemah. "Se-la-mat u-la-ng ta-un" mulutnya yang lemah berusaha berbicara walaupun sambil terbata-bata...guwe cium lagi tangannya bilang "makasih ya nek...".

Itulah kondisi nenek sekarang, gak tega banget liatnya. Semua orang di rumah Jakarta berusaha ngajak ngobrol beliau, biar beliau ga ngerasa dicuekin.
Hari itu juga kebetulan kita makan-makan, karena ada 4 anggota keluarga besar Raintung yang ultah di bulan September, termasuk guwe. Karena semua pada ngumpul di ruang TV, nenek gak mungkin dong ditinggal sendirian di kamar. Akhirnya diangkatlah nenek ama bokap n salah satu sepupu guwe. Orang-orang pada makan, nenek cuma terbaring lemah di tengah ruangan, matanya mengerjap-ngerjap ngeliat keturunannya pada sibuk makan dan ngobrol.
Tante guwe berbisik ke guwe "Kamu kaget gak waktu pertama liat nenek?" dan guwe jawab "banget tan..". Tante guwe cerita kalo beberapa hari yang lalu sempet nenek gak bergerak sampe beberapa menit, orang-orang dah pada panik, tapi kakinya masih anget. Trus, ama om guwe yang pernah kena stroke juga, dikasih gula ke mulut nenek, baru deh beliau bisa bergerak, ternyata saat itu gula darahnya drop..

Waktunya kita pulang, udah jam 8. Guwe dan keluarga pamit ma nenek. Guwe dah nahan-nahan gak nangis akhirnya pecah juga tangis guwe, karena liat nyokap guwe yang pamit mau pulang 1 minggu ke Pontianak, beliau pake nangis pamitnya...Akhirnya nangis juga lah guwe, sambil cium tangan dan keningnya guwe pamit, beliau juga matanya berkaca-kaca. "Baik-baik ya nek...Cepet sembuh" itu kata guwe...iya, cuma itu yang bisa guwe ucapkan selain doa akan apa yang terbaik untuk nenek..tapi guwe bener-bener pengen nenek sembuh, get well soon ya nek....


Serang, 30 September 2007

-AAR-

Beni - di pengkolan (Bagian 1)

Pontianak, kota yang membuat ku selalu kagum dengan masyarakatnya, disinilah aku dikirim oleh bapak dan emak agar tidak bisa bertemu dengan Rio, kekasih ku di kampung halaman. Bapak dan emak tidak merestui hubungan kami dan menganggap Rio sebagai seseorang yang tidak pantas bagi anak kampung seperti aku. Tapi kenapa harus Pontianak? Entahlah, mungkin karena silsilah emak berasal dari sini. Aku hidup sendiri di Pontianak, untung ada ibu kos yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Untuk mencari makan, aku memutuskan untuk mengajar di sebuah TK yang jaraknya 25 km dari kos an ku. Dan dari mengajar inilah kemudian aku mendapatkan penghasilan yang cukup untuk makan sehari-hari dan membayar uang kos, aku pun lambat laun bisa mengurangi kesedihanku akan Rio, Rio yang pernah menjadi api, angin dan air bagiku. Aku yakin ia pasti lebih bahagia jika aku tidak ada, karena tidak ada lagi tekanan serta teror dari bapak terhadapnya, aku selalu berusaha meyakinkannya bahwa mungkin ini yang terbaik, bahwa cinta tidak selalu harus memiliki. Walaupun tidak ada kata putus dari mulut kami berdua, tapi kami hanya bisa pasrah, walaupun sesekali Rio mengunjungiku ke Pontianak, sekedar melepas kangen.


Seperti biasanya siang itu ku kembali menyusuri gang sempit menuju rumahku. Dalam benakku sudah terbayang segelas teh manis hangat buatan ibu kos di kos ku tercinta, ya..ibu kos pasti selalu membuatkan segelas teh manis hangat setiap aku pulang mengajar. Hari ini sangat melelahkan, anak-anak didikku di TK tempatku mengajar lebih aktif daripada biasanya, mungkin karena hari ini ada pembagian paket nasi-ayam dari ibu-ibu PKK dekat TK itu, yang merupakan makanan yang sangat jarang mereka makan. Aku pun tersenyum sendiri mengingat tingkah mereka pada saat pembagian paket nasi-ayam itu, dasar anak-anak..pikirku.

Dengan langkah kecil kususuri gang kecil ini, sayup-sayup terdengar suara nyanyian sekelompok laki-laki menyanyikan lagu “When you say nothing at all” nya Ronan Keating, terdengar agak fals memang dengan lirik yang agak melenceng. Suara nyanyian itu semakin mendekat, dan akhirnya kudapati sekelompok anak-anak muda yang sedang nongkrong di pengkolan deket pos ronda. Aku kenal mereka, para pemuda karang taruna di kampung ku. Tapi tampaknya ada salah satu dari mereka yang terlihat asing tapi aku merasa pernah melihatnya.


Sampai akhirnya mereka menyapaku, aku pun mendekati mereka sekedar menyapa kembali, aku tahu…dia seorang teman yang pernah kukenal tiga tahun yang lalu di Jogja, tempat ku menimba ilmu pendidikan guru TK ku. Namanya Beni, seorang seniman, kami bertemu di acara sekatenan di Jogja, ketika aku mengisi sebuah acara campur sari disana. Kesan pertama pada saat itu, penampilannya tipikal seorang seniman, rambut gondrong, celana jeans belel, dan cuek abiss. Sejak pertemuan itu, kadang kami berkirim kabar lewat surat, telpon, sms, dan email,dan itu berlangsung cukup lama, sampai 1,5 tahun terakhir ini aku tidak mendapatkan kabar darinya. Dan sekarang tiba-tiba dia ada di hadapanku, ia tampak lain, mungkin karena sudah ada yang memperhatikan penampilannya. Kepalanya yang sekarang botak dan tingkahnya yang lucu mengingatkanku pada Shinchan, anak balita yang tengil yang ulahnya membuat stres orangtuanya.


Pertemuan hari itu sangat mengejutkanku, ia pun terlihat sangat terkejut karena tidak menyangka akan bertemu denganku di kota ini. Kami pun mengobrol sambil berjalan-jalan menuju rumahku, sekalian melepas kangen. Ternyata ia tinggal tak jauh dari tempat kos ku. Ia bercerita tentang kekasihnya yang tadinya akan dinikahinya, dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha kayu di Pontianak. Karena ia dengar kekasihnya pindah ke Pontianak, maka ia memutuskan untuk menyusul kekasihnya, untuk mendapatkan kesempatannya kembali untuk bersanding dengan pujaan hati nya. Hampir ku menitikkan air mata, lagi-lagi kutemui salah satu “korban” keputusan orangtua, pertanyaan itu pun muncul lagi “apakah yang baik menurut mereka, akan baik juga bagi kami....anaknya?”. Tapi aku tak ingin menceritakan kisahku pada Beni, aku tidak ingin menambah sedihnya. Aku hanya mengatakan bahwa aku mendapat kerja disini. Aku mencoba untuk mencandainya, mengejeknya, untuk membuatnya tertawa, paling tidak tersenyum dengan gigi-gigi putihnya yang berbaris rapih. Tak terasa kami mengobrol, aku sudah tiba di depan kos ku. Kami pun berpisah, dan berjanji akan bertemu lagi hari minggu besok.

bersambung......

Beni - di pengkolan (Bagian 2)


Hari minggu pun datang, Beni menjemputku di kos. Setelah pamit kepada ibu kos, kami pun berjalan-jalan menuju pinggir sungai Kapuas. Sambil berjalan, Beni mengajakku makan siang di sebuah warung makan di pinggir jalan. Sambil menyeruput semangkuk air tahu hangat, perbincangan kami berlanjut dengan serunya, Beni menceritaan pengalamannya sebagai seorang seniman, hampir semua provinsi di Indonesia pernah ia kunjungi, ia bercerita orang-orang yang ia temui, ia juga menceritakan kesan pertama ketika bertemu aku di acara sekatenan itu, pada saat itu matanya terlihat berbinar dan tak henti memandangiku, mungkin karena wajahku yang bulat membuatnya berfantasi sedang berbicara pada teletubbies, berbeda ketika ia menceritakan pujaan hatinya, matanya terlihat sayu dan tersenyum kecut ketika kugoda, menyiratkan bahwa luka itu masih sangat dalam.


Tak terasa waktu menunjukkan 16.30 wib, aku pun mengajaknya pulang, aku takut kalau pulang terlalu malam. Setelah membayar makanan kami, Beni mengantarku pulang. Sambil berjalan, ia tak henti mencandaiku, sesekali kupukul tangannya karena gemas melihat tubuhnya yang terlihat lebih gemuk, entah kenapa aku sangat menikmati saat-saat ini. Ia pun meraih tanganku ketika kami menyeberang, jantung ini sempat berdetak kencang, tapi masak sih...? “Maaf Rio” ucapku dalam hati, aku menarik nafas dalam-dalam dan detak jantungku pun reda kembali. Ketika menunggu angkot yang akan kami naiki, tak sengaja mataku bertumpu pada seorang penjual kura-kura Brazil di depan sebuah toko bunga tak jauh dari tempat kami berdiri. Aku pun mengajaknya menghampiri penjual itu, aku ingin sekali memelihara kura-kura itu, tak kusangka Beni langsung memilih dan membayar kura-kura itu, “biar kamu selalu ingat padaku, kita namai dia Bento ya?” katanya, aku pun tersenyum simpul dan mengangguk, tak lama datang angkot jurusan sungai Bangkong.


Akhirnya kami sampai ke depan gang ku, kami pun turun, dan kembali berjalan menyusuri gang kecil menuju kos ku. Sepanjang perjalanan, ia menggenggam erat tanganku, entah apa maksudnya, mungkin Beni pun mulai merasakan hal yang sama denganku..ah apapun itu aku hanya ingin menikmati kehangatan ini. Kembali kuingat Rio, tapi kenapa seperti ada yang mengisi kekosongan hatiku selama ini, semangat ini...entah darimana datangnya. Tibalah kami di depan kos ku, “aku akan meninggalkan Pontianak lusa” katanya tiba-tiba, terkejut ku dibuatnya. Ketika aku meminta alasan ia berkata “adikku sakit, ia sering mengigaukan namaku dalam tidurnya”. Dan aku bertanya tentang obsesinya terhadap kekasihnya, ia pun menjawab “entah aku akan kembali atau tidak kesini, tapi semenjak bertemu kamu, aku sadar bahwa aku harus menjalani kehidupanku dengan normal kembali, kembali kepada keluargaku, doakan aku supaya aku selalu kuat disana ya?” Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala, yah jika memang itu yang terbaik untukmu Ben. Ia juga mengatakan bahwa lusa akan datang kembali ke kos ku untuk pamit, tapi aku tidak bisa, aku harus mengajar. Aku berjanji akan menemuinya di pelabuhan sebelum ia berangkat. Ia pun pamit pulang, aku hanya bisa menatap punggungnya yang perlahan menghilang di pengkolan dekat pos ronda.

bersambung......

Beni - di pengkolan (Bagian 3)


Hari itu pun tiba, dari TK aku berlari kecil, agar tidak terlambat sampai pelabuhan. Tapi angkot yang kucari lama sekali datangnya, kutengok jam tanganku, 20 menit lagi...tanganku mulai terasa dingin, cemas, takut ku tak bisa menyaksikannya pergi dari kota ini.


Akhirnya sampai juga aku ke pelabuhan, aku berlari kecil, mencari wajahnya yang akan kurindukan. “Toot...toot...toot”, klakson kapal mengagetkanku, menandakan kapal akan segera berangkat, aku terlambat.... Aku panik mencarinya di tengah kerumunan pengantar dan penumpang yang terlambat datang, sampai kutemukan wajahnya di antara penumpang di atas kapal itu. Ia melambai ke arahku, aku pun membalas lambaiannya. Dari bibirnya terlihat ia mengatakan “Terima kasih” sambil tersenyum. Aku pun mengangguk dan membalas senyumannya. Kapal pun terlihat sudah mulai menjauh, kami saling bertatap dan melambai sampai wajahnya terlihat sangat kecil dari tempatku berdiri, dan akhirnya tak terlihat lagi. Ku membalikkan badan, dan tersenyum kecut, kualihkan pikiranku pada Rio dan anak-anak didikku, dan mulai berjalan pulang. Sampai di gang kecil ku, ku berjalan dan tersenyum kembali mengingat perjalanan pulang bersama Beni pada malam itu, dan sayup-sayup kembali terdengar kelompok karang taruna itu sedang menyanyikan sebuah lagu Peterpan, lagu yang sempat membuat ku menitikkan air mata teringat pada Beni. Waktu terasa semakin berlalu, tinggalkan cerita tentang kita..Akan tiada lagi kini tawamu...tuk hapuskan semua sepi di hati...



Tirtayasa, 09 Maret 2007

02.00



-AAR-

Wednesday, October 3, 2007

Ramadhan kali ini..

Dalam Ramadhan kali ini, hari berlalu seperti biasa. Tidak ada yang berbeda, kecuali 4 juz sudah aku lewatkan. Meskipun hanya membacanya saja-sama seperti kalau aku baca buku filsafat, sains atau buku cerita yang tidak menarik. Semuanya hanya kubaca begitu saja, tanpa sadar jika ada sesuatu yang telah kubaca dan terekam dalam memori otakku. Mungkin kelak akan terasa perlunya. Wallahuallam..


Ramadhan kali ini aku juga tidak merasakan getaran apapun. Kecuali aku hanya mengagumi suaraku sendiri jika malam, atau seusai shalat subuh aku membaca ayat-ayat-Nya itu dengan suara yang sengaja aku keraskan. Sepertinya ada dendang nan indah terdengar menyentuh di hati, meskipun sedikit narsis-O...sungguh suaranya enak sekali.

Selain baju baru, Ramadhan kali ini juga tidak ada yang nampak baru, kecuali perempuan itu--yang sebenarnya juga bukan baru, tapi setidaknya ada cerita yang baru. Seorang perempuan dengan tergopoh menjinjing tas yang super padat, dengan menggendong ransel yang juga berat. Yah Nda--yang sudah menyempatkan menjengukku, hanya untuk menyiapkan menu untuk buka puasa dan makan sahur. Makaci yah nda..


Semestinya juga Ramadhan kali ini bisa terlewatkan dengan biasa--tanpa kesan apapun, sehingga aku tidak perlu berhitung apapun yang aku dapatkan dari ibadah puasanya. Karena Ramadhan seharusnya menjadi ibadah yang diam-diam, yang hanya aku dan Tuhan yang tahu nilai ibadahnya. Begitu juga dengan kesan yang aku rasakan--biarlah kesannya ada dan tetap tersembunyi.


Mungkin enggak yah Ramadhan kali ini terlewatkan dengan tersenyum saja. Dan nanti pada hari yang Fitri, aku hanya tersenyum tanpa ada siapapun yang tahu kalau aku sedang tersenyum..


Bandung, menjelang mudik 031007

-HF-

Jealousy Management

"Bagus...pas nDa nunggu-nunggu smsnya, A malah telpon-telpon an, sms-sms an ma dia..."
itu kata-kata guwe, lembut, tapi dalem dan membombardir perasaan kita berdua, terutama guwe.
Gak tau kenapa, berbulan-bulan dilewatin bareng, guwe malah jadi gampang cemburuan...
Susah emang punya kekasih yang supel, gampang akrab ma orang lain,
gak cewek-gak cowok.

Oppa punya beberapa temen baik, dan bisa dibilang deket malah. Ada cewek ada juga cowok, sebagian besar guwe dah kenal. Oppa itu orangnya suka cerita, apapun yang dia lakukan seharian, pasti diceritain ma guwe, mulai bangun tidur, ke kampus, ampe malemnya pas dia ngelapor ke guwe. Entah apa itu bentuk laporan, tapi dia selalu tegaskan bahwa dia pengen mengkomunikasikan semuanya, biar ada rasa percaya-keterbukaan.

Tapi ada temen deket yang barunya Oppa - cewek, yang sebulan terakhir ini jadi deket dan intens komunikasinya, dan so pasti guwe saat itu terbakarrrrrr abissss.... Alasannya karena guwe takut kehilangan, klise gak sih?? Waktu itu, hampir 24 jam kita debat lewat sms tentang masalah ini..Mulai dari bernada lembut - emosi - ampe ke lembut lagi....
Dan sebenernya guwe harusnya menghormati kebebasan dia dalam bersahabat, masih bagus dia cerita apa aja yang diobrolin ma temen barunya itu, kalo dia sering cerita tentang guwe ke temennya itu itu, soal betapa bangga dan senangnya dia atas guwe...

Sebenernya jengah juga sih-capek, dan sekarang pun, berhari-hari setelah kejadian itu, guwe suka ketawa-ketawa sendiri kalo baca sms nya pas kemaren perang dingin gara-gara cemburu buta. Persis kayak anak SMP yang lagi cemburu ma pacarnya yang baru aja tumbuh buah jakunnya =D

Sampai suatu pagi habis sahur dan sholat subuh, seperti biasa kita telpon-telponan, dan Oppa cerita in aktifitasnya lagi, salah satunya adalah chatting ma tmennya itu..dan saat itu guwe yang udah mulai bisa menerima semuanya, kambuh lagi..kayak anak kecil,
"O...jadi begitu ya?....*&%*(*(*$#%^^*>+####@#$%^%"....entah apalagi yang yang keluar dari mulut ini.
Kumat lagi deh guwe, persis kaya cewe kuper (kurang perhatian), padahal nggak banget. Oppa perhatian banget ma guwe, selalu menjaga komunikasi, dan membangun kepercayaannya...Sampai mungkin Oppa kesel juga denger guwe ngomel-ngomel ga jelas
Oppa bilang dengan lembutnya "Udah deh nDa, ntar a nya capek ngeladeninnya..",

Ya ampun...saat itu kepala guwe kayak dipukul godam yang guede, yang akhirnya bikin guwe sadar..Kalo hubungan jarak jauh ini selalu gue kaitkan ama selingkuh, pasti guwe jadi gak percaya ma Oppa dan kalo sekarang modal kita berdua dalam menjalin hubungan itu harus dilandasi ama kepercayaan...berarti hubungan ini gak akan kuat kalo dilanda masalah...dan kalo guwe begini-begini terus, Oppa pasti capek dan bosen ngeladenin guwe. Karena kalo kata dia, saat-saat ini udah bukan waktunya cemburu-cemburuan, ngeributin hal yang remeh yang dibesar-besarkan. Tapi, yang harus dibicarakan adalah gimana caranya biar kita bisa mewujudkan cita-cita besar kita bersama-melanjutkan hubungan ini.

Dan Oppa juga sering bilang, "Baru juga masalah ini nDa, ntar kalo insya Allah kita berumah tangga, masalahnya mungkin akan lebih dari pada ini..nDa harusnya bisa lebih bijak menyikapi masalahnya, jangan keburu emosi..Cita-cita kita dalam membangun pola hubungannya
kan-saling mendukung dan keterbukaan. Perjalanan kita sudah mulai jauh, dan modal terbesar kita saat ini kan kepercayaan dan komitmen.. Ayolah, kasih kepercayaannya ke a.."

Hu hu hu..Oppa, maaf ya...nDa khilaf.
Selanjutnya, guwe sudah berkomitmen untuk menerapkan Jealousy Management setiap guwe kumat, karena guwe juga punya temen-temen deket cowok, dan Oppa gak pernah cemburu banget kayak guwe gitu..Dan kalopun dia mulai curiga, itu juga karena guwe mulai curiga duluan ma dia...Nular, hehehehehe!
Cara Jealousy Management guwe: Setiap guwe kira-kira akan cemburu buta n ngambek lagi nih, guwe tarik nafas dalem-dalem lewat hidung...bayangin Oppa lagi ada di deket guwe, kita bercanda, cerita, ngobrol...atau bayangin apapun yang indah-indah waktu ama Oppa, setelah itu, hembuskan nafasnya pelan-pelan lewat mulut....trus nyanyi-nyanyi sendiri deh...Beberapa kali sih berhasil, dan semoga aja selalu berhasil, hehehehehe!!
Jadi kesimpulannya cemburu itu bisa terjadi bukan hanya karena ada pelakunya, tapi karena ada kesempatan..Waspadalah...Waspadalah....
(Hehehe..What the maxud??)
Miss you Oppa....Maaf ya.....

Taman Baladika 031007

-AAR-

Kontemplasi "24 di 24"

Tepat jam 00.00, ada bunyi sms terdengar, dari Oppa, bunyinya:
"SLAMAT ULANG TAHUN!! Usia nDa beranjak-ini ultah pertama dengan a. Moga juga turut beranjak rejeki dan kedewasaannya, juga sing sehat..Sukses ya sayang.. =) Lov U...."

Duh..terharu bacanya, padahal itu 5 menit setelah berantem semaleman berkepanjangan karena guwe yang terlalu diburu cemburu buta.
Masalah cemburu ini ditulis di Jealousy Management.
Setelah baca sms itu, guwe ambil wudhu, solat isa, trus sujud syukur atas bertambahnya usia ini.

Hari ini awal hari tanggal 24 September, pas hari ultah guwe yang ke 24 pula...Perubahan apa yang guwe dapat, tambah dewasa kah? tambah bijak kah? entahlah...Yang jelas malam ini guwe duduk di depan beberapa tangkai bunga, satu rangkaian bunga dari ceweknya adik guwe (thanks a lot ya Met..), ada satu bingkisan plastik warna hijau-kado yang belum sempet dibungkus =) dari ceweknya adik guwe satu lagi (thanks a lot juga ya El..), ada tiga tangkai
mawar warna merah dan putih dari Oppa, dan tiga lilin aromatherapy bentuk hati dan mawar dari Oppa juga, lilin-lilinnya guwe nyalain biar dapet nuansa kontemplasinya =) ..

Malam ini guwe renungkan apa yang udah guwe dapet, apa yang belum guwe dapet. Sedih juga malam ultah guwe ini guwe sendirian, bestfriend guwe dah ngorok di kamar sebelah setelah ngucapin Happy Birthday ke guwe (thanks anyway ya nungky..), adik-adik guwe juga tadi dah ngorok setelah cipika cipiki guwe sambil ngucapin met ultah..

24 tahun....
1 tahun lagi deadline merried guwe, guwe dah berandai-andai sebelumnya kalo umur 25 guwe harus dah merit..
Duh Gusti...entahlah akan tercapai ato nggak, meski saat ini udah ada Oppa yang bener-bener kalo bisa guwe bilang, "he's a blessing", dengan kesabarannya, kebijakannya, dan yang paling top markotop itu "manajemen konflik" nya kalo lagi berantem...tapi kan gak tau ya, jodoh guwe ma dia bukan..meski berharap, tapi guwe biarkan tangan Tuhan yang mengaturnya.
Makasih Oppa, atas cintanya, atas supportnya, atas kesabarannya...atas semuanya...Maaf..

24 tahun....
Tahun ini alhamdulillah banget Bokap-Nyokap masih sehat, masih dilindungi Tuhan atas kehidupannya, masih akur, dan yang paling penting masih selalu ada di samping guwe untuk mendoakan setiap langkah guwe...
Thanks Mam n Pap, Love U trully madly deeply do....Tapi sayang, nenek tercinta guwe dari bokap kena stroke, udah sekitar 2 bulanan ini, beliau kini di kursi roda, susah ngomong, dan sulit merespon lingkungannya, kadang lupa ama cucu-cucunya.. Nek, cepet pulih ya, Acit selalu doain yang terbaik untuk nenek...

24 tahun....
Bulan ini menginjak semester-semester akhir kuliah guwe. 4 minggu terakhir ini, kejer-kejeran ma dosen pembimbing, stress karena killernya-ga bisa tidur ampe pagi (karena bulan puasa juga, jadi baru bisa tidur habis solat subuh sekitar jam stgh 6an)-riweuh kesana kemari karena printer yang rusak..dan akhirnya sudah hampir selesai proposal thesisnya. Kayaknya sih habis lebaran, ngurus final touch, trus seminar deh...(hu hu hu....nervous), doain ya temen-temen...

24 tahun....
Yang paling bikin guwe sedih, di usia setua ini, masih juga ngandelin hidup ke bokap nyokap, temen-temen guwe dah banyak yang kerja, dah bisa ngasih ke orangtua mereka, bahkan dah pada merit...Ya Tuhan, semoga ini adalah rencana terbaikmu untukku..Maaf ya Mam-Pap, belum bisa membalas semua kehidupan yang kalian beri untuk Acit. Acit janji sesegera mungkin menyelesaikan studinya, biar bisa cepet kerja, dan mengurangi beban Mam-Pap..

24 tahun...
Guwe masih merasa dan berperilaku kayak anak kecil, masih mengutamakan emosi dari pada otak. Walopun hal ini adalah ciri-ciri karakter yang paling dominan dari seorang wanita, tapi setidaknya guwe harusnya sudah bisa menerapkan Anger Management, biar gak terlalu menonjol karakter ini. Apalagi kalo dah PMS...duh, ampun DJ...Oppa cuma bisa geleng-geleng, dan bilang "Duh nda...jangan sering-sering pundung atuh, ntar nular ke a..."
Dan kata-kata Oppa ini bikin guwe mikir..."Oh iya ya, gimana kalo gantian Oppa yang pundung?? Emang enaaaak???"
Ya Tuhan....Berikanlah kebijakan dalam berpikir, kedewasaan dalam menyikapi, dan kematangan dalam bertindak...

24 tahun...
Masih jauh memang perjalanan (Insya Allah kalo Tuhan anugerahi umur yang panjang), masih banyak yang bisa guwe lakukan untuk diri guwe, orangtua guwe, adik-adik guwe, temen-temen guwe, Oppa, orang lain, terutama untuk anak-anak dan dunianya...Punya harapan banyak, tapi kalo disebutin satu-persatu mungkin akan jadi novel =D , jadi guwe cuma bisa bilang...
"Ya Allah..berikan yang terbaik untukku, berikanlah aku kekuatan dalam menjalani segala macam kehidupan-rintangan-cobaan, dan kumohon anugerahkanlah usia yang panjang dan bermanfaat bagiku-kedua orangtuaku-kedua adikku-Oppa-dan (kalau bisa) seluruh saudara-saudaraku..."
Amin...

Dan 24 tahun...
Terima kasih Tuhan atas semuanya, yang tidak mungkin kusebutkan satu persatu....Semakin hari, semakin aku yakin akan kasih sayang dan kebesaran-Mu...



P.S : Makasih untuk semua temen-temen guwe, yang inget maupun yang gak inget ultah
guwe ;p
Kalian akan selalu jadi bagian dari hidup guwe...Lov U All...


Yogyakarta, 24 September 2007
-AAR-