Saturday, April 28, 2007

27/03/2007 - 10:25

Biarkan aku menanamkan sedikit saja cinta dihatimu/
Lalu, kita merawatnya sampai tumbuh dan berkembang/
Dan aku akan menyiraminya dengan ketulusan serta kasih sayang/
Sesekali aku menyanyi, kelak aku ingin melihatmu bahagia/
Tapi, berikanlah aku kesempatan untuk mencintaimu /
Karena aku ingin sekali ada di bagian kecil dari hatimu....
-HF-

11/03/2007 - 21:07

Aku ingin mencintai-mu, tapi tidak sekarang/
Tapi nanti, ketika hari sudah mulai senja dan langit sudah memerah/
Dan burung-burung bersiap kembali untuk pulang/
Aku ingin mencintai-mu tapi tidakdisini/
Tapi jauh di dalam hati ini dan aku hanya ingin menyimpannya saja/
Karena aku tahu aku hanya ingin mencintai-mu saja

-HF-

09/03/2007 -- 19:29


Aku hanya ingin mengukir kata di matamu/
Mungkin untuk kau simpan saja/
Lantas kita bersiap-menguntai makna dan membungkam derita/
Sampai akhirnya mentari benar-benar tercipta/
Maaf...aku masih ingin bersamamu sebentar saja...
Ya Allah, ya Allah mohon izin untuk tetap menyapanya...
-HF-

Friday, April 27, 2007

"Aku Ingin Melihatmu Menyanyi, Sayang"


Aku tidak hanya ingin melihatmu menyanyi, tetapi juga
Aku ingin melihatmu melenggok mengayunkan jari-jemari
serta memutar tubuh indahmu.
Dan aku akan menuliskannya lewat puisi, serta kanvas.
OOOOoooo... lantas apa yang harus kuperbuat....
OOOOoooo... lantas apa yang mesti kusampaikan....

Aku melihat dua warna saja yang tertangkap di lensa mataku

adalah warna-warna kehidupan, yang memiliki ruh dan sarat dengan getar-getar alam.
Keyakinanku masih panjang akan usai, dan kita akan dengan jelas
melihat hitam dan putihnya warna-warna kehidupan begitu dekat.

Sekali saja aku berteriak "Kembalikan Indonesia Pada Ku!...."
Begitu juga dengan titipan seorang ayah yang menegaskan untuk selalu
mengibarkan merah putih dalam hatiku dan tentu NKRI menjadi harga mati.
Tapi aku ingin mencumbumu, aku ingin memelukmu sampai esok pagi
ketika kita sudah merasa lelah.
Dan mungkin aku berbisik kepada selangkanganmu--
lahirkan putra-putri pertiwi yang berani dari rahimmu...

"Aku Ingin Melihatmu Menyanyi, Sayang"

Kota Kembang Menatap Pagi --HF--

Monday, April 23, 2007

Tuhan..Terlambat lagi...



Pagi itu alarm handphone ku terdengar nyaring sekali di telinga...
Kulirik jam di dinding..ah masih jam 7 ,'masih lama' pikirku
kuliahku jam 8, tapi biasanya aku bersiap jam 07.30...tidak normal untuk seorang gadis...
Tak terasa aku pun tertidur kembali, dan kembali terkejut ketika bangun
dan melihat jam di dinding, 08.10..wah terlambat lagi....
untuk hari ke dua nya aku terlambat bangun..Tuhan, mengapa??
aku pun segera bersiap untuk berangkat kuliah,'masuk jam ke-2 saja' pikirku...
Tiba di kampus, teman-teman menyapaku dan menayakan keberadaanku
tadi pagi..yang sungguh di luar kebiasaanku
Aku hanya menjawab, 'ketiduran...'
Tapi salah satu teman dekatku menangkap ada yang ganjil dari diriku
ia bertanya mengapa sudah dua hari ini aku menjadi pendiam??
AKu pun baru menyadari perubahanku ini, kenapa aku menjadi
pendiam,dari yang biasanya teriak teriak di kelas kayak kernet bis..
dari yang biasanya selalu mencela orang-orang dekatku di kelas...
dari yang biasanya bengok-bengok seperti pedagang teh sosro menjajakan dagangannya...
Aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya..yang ku tahu aku menjadi
"Dhania" yang lain dua hari ini..entah apa karena perasaan maha dahsyat
sang satrio yang sudah tak terasa lagi gemanya??
entah lah, yang kutahu aku sangat merindukannya,
berharap rasa ini tak pernah berakhir, sekaligus kembali meragukan
keberadaannya di hati kecil ini...
Tuhan, tolong cabut rasa ini jika memang harus membuat ku menjadi orang lain..
-AAR-
240407

Izinkan Aku Tuhan....

Ku Izin...
Ku izin tuk pejamkan mataku sejenak
hanya tuk menenangkan pikiran ini..

Ku izin tuk merebahkan tubuh ini
hanya tuk melepas lelah..

Dan selanjutnya,
Ku izin tuk menyapa-nya lewat hati dan
senandungku esok hari,
dan ku izin bisa untuk selamanya

-AAR-
210407

Swiss

Dhania

Sudah tiga tahun aku menemukan perempuan itu, yang kuingat namanya Dhania, seorang mahasiswi jurusan psikologi. Sejak pertemuan malam itu, aku sudah tidak lagi mengingatnya, hanya saja ada semacam kesan yang tertinggal dalam hati ini. Mungkin suaranya, tapi mungkin juga karena ia yang pertamakali menyapaku.

Aku menyudahi catatan kecilku, kebiasaan ini yang kupertahankan setiap kali berkunjung ketempat-tempat yang tidak biasa kukunjungi. Rumpunan bunga tulip berjejer di sepanjang jalan, terlihat indah. Tadinya aku ingin sekali memetiknya, setelah kupastikan bahwa tidak ada yang melihatku, dengan segera aku menyambarnya satu tangkai. Tapi sebelum aku menyelesaikan niat jelekku, perempuan itu entah darimana datangnya sudah memegang pundakku. kaget juga aku dibuatnya, terlebih pertemuan ini tidak kusangka-sangka. Ternyata
Dhania, perempuan yang beberapa tahun lalu kudapati dalam sebuah nyanyian campur sari.

Sambil menyusuri danau Zug, Dhania bercerita prihal keberadaannya di switzerland. Ia datang ke Swiss untuk menemui tunangannya yang berada di kota Zug ini, selebihnya kita hanya berputar-putar sambil berbagi cerita pengalaman masing-masing. Sebenarnya Dhania sudah melihatku saat di lapangan terbang Zurich, tapi karena ia terburu-buru jadi tidak menyempatkan untuk menyapaku. Tapi tak disangka tak dinyana ternyata kita tinggal dalam satu apartemen yang sama. Suatu kebetulan yang jarang sekali di dapatkan.

Pertama kali bertemu Dhania di Jogja dalam acara sekatenan, sebuah acara tahunan yang di gelar oleh keraton Jogja. Dalam acara sekatenan selain acara ritual yang dilakukan oleh orang-orang keraton untuk membersihkan benda-benda pusaka, juga ada pasar rakyat dan hiburan rakyat. Malam itu kami berkeliling untuk sekedar jalan-jalan dan menikmati acaranya.

Dhania lah yang pertama kali menyapaku dan memberikan tangannya, kita saling berkenalan dengan bertukar identitas singkat dan kutahu kalau Dhania adalah mahasiswi jurusan Psikologi, Dhania juga yang akhirnya menyita perhatianku malam itu, dengan beberapa tembang campur sari, Dhania menyanyikannya dengan suaranya yang ternyata enak sekali terdengar, diiringi musik dari pengamen, malam itu kami menghabiskan malamnya di alkid.

Tidak terfikir kalau setelah malam itu ternyata hubungan aku dengan Dhania berlanjut. Walau hanya sebatas menyapa singkat dengan pesan elektroniknya, aku sungguh menikmatinya. Kita saling bersapa, terkadang canda, bahkan kelelahan. Tidak lebih dari itu. Tapi jujur saja, aku suka dengan Dhania, entahlah apa yang membuat aku menyukainya, mungkin untuk hal ini orang terkadang bisa tanpa alasan apapun untuk bisa menyukai orang lain.

Kembali ke danau Zug. Udara disini dingin sekali, suhu udara sampai minus tiga derajat celcius. Kulihat wajah Dhania, nyaris tertutup, mantelnya yang tebal dengan topi kupluk yang terbuat dari wol menutup sebagian wajahnya. Terlihat lucu pikirku, seperti boneka teletubis. Ketika tahu aku memikirkan prihal dirinya yang ku anggap mirip teletubis, kontan saja Dhania misuh, kemudian pukulan-pukulan kecil menghujani pundak kiriku.

Walaupun hanya beberapa kali saja bertemu Dhania, itupun dalam pertemuan-pertemuan singkat, terlebih satu tahun ini Dhania seperti menghilang tidak ada kabar berita, tapi aku merasa sudah begitu dekat dengannya. Mungkin komunikasi kita pernah terjalin dengan baik, makanya aku beranikan diri untuk bercanda secara langsung dengannya.

Hari sudah sore, aku masih berjalan di tepian danau Zug, sepertinya hari ini akan menghabiskan waktu dengan Dhania. Pemandangan disini indah sekali, semuanya tersusun dengan rapih, jarang sekali ada rumah-rumah, karena kebanyakan orang disini tinggal di apartemen. Di ujung
jalan setelah kelokan itu ada sebuah kedai, mirip warung tenda, aku mengajak Dhania untuk beristirahat disana.

Kopi hangat, dengan roti panggang cukup membuat ku kenyang. Dhania menatapku seolah ada yang ingin dikatakannya. Aku menepis pandangan itu dengan menunjuk sebuah gunung jauh di sebrang danau Zug, aku mengalihkan tatapan Dhania dengan bercerita kalau itu pegunungan Rigi, aku mengetahuinya dari kerabatku yang letak apartemennya tepat menghadap kearah pegunungan itu, jadi setiap pagi aku membuka jendela apartemennya dan mendapati pemandangan pegunungan Rigi yang indah itu.

Dhania sesaat terdiam, aku merasa kikuk dengan keadaan semacam ini, tapi aku tidak ingin Dhania bercerita sesuatu kepadaku saat ini. Aku membuyarkan lamunan Dhania, aku ajaknya pulang. Hari sudah mulai gelap, karena apartemen tempat kita tinggal tidak begitu jauh aku mengusulkan bagaimana kalau pulangnnya jalan kaki saja, hitung-hitung menikmati keindaha
n malamnya kota Zug, sebuah kota kecil di switzerland.

Sepanjang jalan dihiasi oleh lampu-lampu, trotoar jalanpun terlihat begitu bersih, tidak terlihat ada pedagang kaki lima atau pedagang makanan seperti di Malioboro. Aku menunjuk sebuah kafe yang bertemakan rastafara. Ditengah-tengah ada acara live musik yang mengiringi, sedangkan bangku tempat duduk pengunjung kafe membentuk lingkaran, kafenya terbuka, jadi orang-orang dapat dengan bebas melihat, seperti jalan Braga di kota Bandung pikirku. Sepertinya kafe itu tempat anak-anak muda yang menggandrungi musik-musik reage berkumpul, terlihat dari lagu-lagu yang dibawakan, terdengar lagu-lagunya Bob Marley. Kebanyakan dari anak muda itu rambutnya di dredlok.

Aku teringat Jogjakarta, aku ingat alkid, Dhania menyanyi di iringi para pengamennya, dua orang pengamennya berambut gimbal. Dhania ingin sekali menyanyi disana, satu atau dua lagu campur sari, tapi ini kan bukan di Jogja, lagian orang-orang itu akan keanehan mendengarkan
jenis lagu campur sari. Dhania nakal mengisengiku, memaksaku untuk bisa bergabung dengan anak-anak muda di kafe itu, katanya sekedar minum wine. Aku menanggapinya dengan senyuman, untuk hal ini Dhania mengerti kalau dirinya iseng saja, makanya ditanggapi hanya dengan senyuman.

Dhania menggandeng tanganku, mungkin kedinginan pikirku, tapi mungkin juga... ach bukan, pasti aku salah. Sampai akhirnya Dhania memeluk erat tubuhku di loby apartemen, dan sebelum berpisah untuk kembali ke kamar masing-masing, Dhania sempat mengatakan kalau sepulang dari sini ia menungguku di Jogja. Entah maksudnya apa, aku tidak berani memikirkannya.


Aku kembali menuliskan catatan di kamar apartemen. sampai akhirnya benar-benar terlelap, aku menyimpan semua catatannya dengan rapih, begitu juga dengan Dhania, yang kusimpan di bagaian terdalam catatanku. mungkin esok aku akan lebih mengerti tentang Dhanianya. Dan aku akan berterimakasih dengan dua lagunya Ronan Keating (if tomorrow never comes dan when you say nothing at all)


-HF-

Paris van Java akhir Februari 2007

Dhania, Perempuan Yang Ditelan Pagi

Aku masih menunggui purnamanya. Malam ini tepat tanggal lima belas dalam bulan jawa, dan rembulan akan bersinar penuh. Entah malam ini sudah purnama yang keberapa, tapi aku masih saja menunggui purnamanya dengan harapan perempuan berjilbab itu akan datang bersama cahaya kemerahan purnamanya.

Udara pantai selat sunda dingin sekali, kubiarkan wajahku tertusuk oleh dinginnya. Deru ombak terdengar menakutkan, bergemuruh membelah kesunyian malam yang pekat. Dulu di pinggiran pantai ini aku menitipkan Dhania, seorang perempuan yang diam-diam aku menaruh seribu rasa yang tak sempat ku katakan padanya.

Empat tahun yang lalu ketika Dhania meninggalkanku di pinggiran pantai ini, aku berjanji akan selalu menunggunya kembali di tempat ini. Dhania pergi jauh di sebrang laut sana, Dhania melanjutkan studinya ke negri matahari terbit. Terakhir kali berpisah, tidak ada kata yang terucap, hanya dari genggaman tangannya aku merasakan ada semacam janji hati yang kelak harus ditepati.

Ku kencangkan tali jaketku, sepertinya malam ini akan kembali terlewatkan dengan penantian tak berkesudahan. Seperti juga pada purnama sebelumnya, aku akan menghabiskan malam di pinggiran pantai ini. Seorang nelayan menghampiriku, meminta api untuk menyalakan rokoknya. Nelayan itu sempat menanyakan keberadaanku di pinggiran pantai ini, aku menjawab sekenanya, menunggui pagi kataku sambil tersenyum.

Malampun semakin larut, purnama semakin terlihat terang, dilangit tidak terlihat hamparan bintangnya, hanya ada beberapa, biarpun begitu tidak mengurangi keindahan langitnya. Aku masih berdiri menghadap laut yang luas, di hadapan laut aku terasa begitu kecil, sungguh di hadapan laut aku terasa bukanlah apapa, lemah, bahkan untuk mendengarkan deburan ombaknyapun sepertinya aku sudah tak sanggup lagi.

Setelah malam berganti menjadi subuh, aku membentangkan sajadah tepat menghadap kelaut lepas, dalam shalat malamku selalu saja ku titipkan nama Dhania, aku menitipkannya kepada luatnya, aku menitipkan pada malam beserta purnamanya, bahwa kelak aku menginginkan kembali Dhania nya. Kulanjutkan shalatku dengan berdzikir, kupasrahkan semuanya kepada yang mencipta alam beserta isinya, dan Dhania, secara vertikal aku memintanya langsung kepada yang maha pencipta.

Dzikirku semakin larut, dan udarapun semakin dingin. Dhania mendekatiku, memberikan tangannya untuk dapat kugenggam, Dhania mencium tanganku sambil tersenyum. Tidak ada sepatah katapun yang keluar. Dhania merapatkan tubuhnya, sorot matanya masih kuingat benar, mata ini yang membentuk sebuah kayakinan untuk tetap menunggunya di sini. Aku mencoba memberanikan diri meraih pipinya, perlahan aku mencium kelopak matanya, sebentar saja, maaf aku mencium matamu Dhania.

Ku peluk erat Dhania, kubiarkan tubuhnya bersandar di dadaku. Aku merasakan malam ini ada kedamaian, penantianku yang panjang akhirnya terbayarkan pada malam ini. Udara pantai bercampur pasir yang menerpa wajahku sudah tak terasa lagi. Akhirnya kutemukan lagi duniaku yang sempat hilang, sebuah dunia tanpa kata-kata, hanya keindahannya yang kurasai, hanya kerinduan yang menggumpal yang kemudian membentuk keindahannya sendiri. Dhania aku merindukanmu.

Sebelum pagi akhirnya tercipta aku masih bersimpuh di atas sajadahnya. Matahari pagi perlahan terlihat memerah, kemudian terlihat sebuah bulatan besar di ujung langit sana. Terbentuklah sebuah fajar yang siap memberikan kehidupan. Mataku perlahan terbuka, dan akhirnya menyadari kalau Dhania telah datang semalam tadi.

Aku mulai beranjak meninggalkan pesisir pantainya, meninggalkan sapa mentari pagi. Dan kelak aku akan datang lagi pada purnamanya, untuk menjemputmu Dhania.

-HF-

Jalan Pahlawan kota Bandung