Friday, February 15, 2008

!!-Almost Lose Him-!!

Malam ini entah kenapa, tiba-tiba susana hati mellow banget...Mungkin gara-gara nonton film jadul "At First Sight", ditambah lagi kangen banget ama Oppa, secara udah hampir 3 bulan gak ketemu. Padahal hari ini bukan hari yang 'buruk' buat gue. Proposal thesis dah di acc pembimbing 1 (finally), dan proses ke pembimbing 2 yang akan gue mulai senin nanti katanya gak seribet pembimbing 1...Tapi entahlah..malam ini mellow aja.

Inget beberapa malam lalu, gue berantem gede ama Oppa, gak lama sih karena gue nyadar sikap dan tingkah gue emang 'overact' banget. Setelah beberapa lama berdebat, kemudian Oppa dah mengeluh bahwa dia udah 'akan' capek dengan sikap dan tingkah laku gue yang 'lebai, "Oh God, how could i be so annoying?"
I have to admitted that he's a very nice guy, full of patient...but still, he's a man, that have a selfregard, he won't let someone disregard him, and i could be the one, coz yes..i'm a stubborn.


Temen deket Oppa pernah bilang kalo gue beruntung bisa dapet Opa, karena Oppa sabar banget, sabarnya di luar kewajaran seorang laki-laki..mungkin karena dia dibesarin di sebuah keluarga yang kebanyakan cewek, dan sangat menghargai pentingnya "SABAR". Dan kalo gue inget hari itu, hari pertengkaran hebat kita, gue jadi merinding sendiri, sadar kalo selama ini gue udah bener-bener takabur, merasa bahwa "It's allright if you leave me..i can continue my live afterward", egois? betul-betul egois. Memang kalo bicara jodoh atau soal yang terbaik buat kita, itu semua udah ada garisnya...tapi sepertinya kalo kita gak berusaha keras atau yang terbaik, kita gak akan dapet yang terbaik..ya kan??

Jelas-jelas gue yang salah malam itu, dan gue dah minta maaf beribu-ribu maaf, dan janji untuk bisa berubah, besoknya kita ngebahas apa yang tejadi malam itu lewat telepon, selesai telepon, eh..malah Oppa sms:
"Maaf nda, jika ternyata dalam perjalanannya a mengecewakan. Maaf..Tapi dalam selanjutnya a masih ingin nda menemani a.. mengurai arti kedewasaan dengan nda..Suxes ya tesisnya.."

God....he really a blessing, and today, he still is....Thank you God for this. And thank you Oppa for everything that you gave for us..
So...mungkin malam ini guwe jadi mellow karena membayangkan, seandainya gue gak mau ngalah malam itu, seandainya gue keukeuh dengan 'pundungan'nya, seandainya gue tutup telepon tanpa menyelesaikan masalahnya, mungkin kebersamaan ini akan selesai..karena malam itu, I almost lose him....

15 Februari 2008
NewYorkarto, penuh dengan kerinduan...

-AAR-



Thursday, February 14, 2008

=Segenggam CInta Untuk Dhania=

Nda, aku datang kembali kepadamu. Ini aku bawakan segenggam cita dan harapan yang baru. Mungkin tidak lebih dari itu. Karena selebihnya aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu. Nda, tak terasa kebersamaan kita sudah mulai lama, kebersamaan kita sudah semakin tumbuh dengan subur. Tak terasa kita sudah banyak melewati waktu dengan bersama. Dengan keceriaan, tawa, serta candanya nda, rasanya hari-hari terlewatkan dengan indah. Meskipun kerap kita jumpai kesedihan, tangisan, serta persoalan-persoalan yang kemudian membuat kita menjadi sama-sama merunduk untuk dapat merenenungkan kembali kebersamaannya, namun semuanya tidak lantas mengendurkan semangat kita agar bisa menggapai cita, cinta serta harapan yang sudah kita sepakati.

Nda, mimpi kita adalah hidup bersama dalam keluarga yang kelak kita bangun. Rumah yang nyaman, dengan taman bunga dan Lexus yang dandy. Setiap kali akhir pekan, kita akan melewatkannya bersama dengan anak-anak kebanggaan kita. Sementara nda kerepotan mengurus anak-anak yang bermain, aku hanya tersenyum. Senyuman dengan penuh kegembiraan. Sepertinya aku tidak sabar ingin segera mimpinya terwujud nda. Nda, sekarang kita mari berdoa, memohon untuk mimpi-mimpi kita yang indah itu. Kita memejamkan mata, meminta kepada Allah SWT, agar semuanya laksana.

Nda, maaf kalau sampai hari ini aku hanya bisa mencintaimu. Belum lebih.

-HF-

Paris van Java 14 Februari 2008

+Menunggui Kelulusan+

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa juga sudah tujuh tahun aku masih saja tidak beranjak dari kampus ini. Sepertinya waktu masih belum mau beranjak untuk menghukumku. Entah apa yang tengah dipersiapkan sang waktu untuk perjalanan selanjutnya. Sementara dipenghujung akhir masa-masa di kampus, sesekali ada rasa kerinduan yang terasa menakutkan. Kampus ini sepertinya masih ingin menghukumku dengan caranya. Kebersamaan dengan beberapa kawan baru yang aku temui dalam proses skripsipun semakin terasa sayang untuk ditinggalkan. Tujuh tahun di kampus ini memang banyak mengisi cerita-cerita perjalanan yang terkadang melelahkan, namun disisi lain dari sinilah aku memulai perjalanannya.Berangkat dari sebuah ruang kelas yang dulu di awal-awal masa kuliah, aku selalu menghujat bahawa ruang kelas ini sudah harus ditinggalkan. Beberapa teman memujiku, namun tidak sedikit yang memperolok. Aku tidak percaya dengan ruang kelas dapat memberikan pelajaran yang banyak. Di luar sana kita dapat melihat dan membaca banyak ilmu daripada di ruang kelas ini. Sebagian besar dosen hanya geleng-geleng dengan sikapku ini namun beberapa ada yang memberikan semangatnya.

Jumpa, sebuah lembaga tempat penyaluran minat dan bakat bagi mahasiswa akhirnya tempat yang kupilih untuk bisa menemani perjalananku selanjutnya. Di Jumpa, aku bukan saja berjumpa dengan teman-teman yang kelak menjadi sebuah saudara sejati bagiku, di Jumpa aku banyak bersahabat dengan teman-teman yang lain, bukan hanya di kampus, namun di luar, di kampus-kampus lain, di kota-kota lain aku membangun persahabatan yang lebih besar. Di Jumpa juga aku diajarkan untuk bisa berjuang, juga berkarya. Kelak dikemudian hari dari Jumpa lah aku dapat memuai perjalanan yang sesungguhnya.

Perjalanan itu masih akan aku lalui. Ada banyak cerita yang sudah aku tuliskan, dengan meninggalkan kesan nya tersendiri. Begitu juga dengan beberapa orang yang telah aku temui. Perjalanannya begitu indah. Perjalanannya begitu berkesan. Sampai ketika harus tersadar keindahan itu seolah abadi, seolah tidak meninggalkan titik-titik noda yang mengotorinya. Dan perjalanannya akan terus aku lalui.

Akhirnya perjalanan selanjutnya adalah menunggui kelulusan, sembari berbenah dengan juga mengintip sang waktu yang tengah mempersiapkan kehidupan selanjutnya. Untuk itu sepenuhnya aku hanya bisa sujud, berdzikir, serta berdoa untuk dapat ditunjukkan langkah yang kelak aku lalui.

Bandung, Februari 2008

Friday, February 1, 2008

Bangsa yang Repot

Ada yang berteriak karena merasa perlu berteriak. Ada yang diam karena tidak tahu bagaimana caranya bicara. Kasus demi kasus tidak bisa diselesaikan dengan baik. Rakyat miskin semakin di dzolimi. Presiden dihujat dengan sepenuh urat syaraf. Sebagian lagi menjilat sampai ke pantat-pantat. Sementara para cerdik pandai, alim ulama dan kaum teknokrat berakrobat unjuk gigi dengan angkuhnya memposisikan dirinya bak Imam Mahdi yang membawa angin segar.

Begitulah bangsaku yang repot. Persoalan-demi persoalan datang tak diundang dan dengan tiba-tiba bisa saja pergi tanpa jejak. Padahal entah sudah berapa pakar yang memberikan masukan, namun tetap saja tidak selesai. Dari mulai profesor doktor, aktifis, sampai tukang becak semuanya turut andil dalam memberikan sumbangsihnya. Sungguh bangsa ini semestinya menjadi bangsa yang besar. Dengan sumber daya yang dimiliki, selayaknya bangsa ini menjadi bangsa yang selalu berada didepan.

Sejarah panjang bangsa ini seolah berlalu begitu saja. Konon dalam cerita-cerita disebutkan bangsa ini adalah bangsa yang arif. Bangsa ini adalah bangsa yang syarat dengan nilai-nilai falsafah. Keadaan alamnya yang membentang dari ujung keujungnnya diterjemahkan kedalam sebuah prilaku yang elok. Kehidupan berdampingan dengan harmonisasinya yang wajar. Tidak ada yang saling mendominasi antara satu dengan yang lainnya. Semuanya rukun dalam sebuah kesahajaan yang sederhana.

Tapi sudahlah...Sekarang bangsa ini sudah melampaui keanehannya. Dimana batasan-batasan sudah menjadi buram. Sehingga salah, benar, baik dan buruk menjadi bukan sebuah persoalan. Tubruk menubruk satu dengan yang lainnya menjadi biasa karena dianggap wajar dalam sebuah kehidupan. Bangsa ini sungguh sudah menjadi bangsa yang repot. Bangsa dengan segala macam persoalannya. Bangsa dimana sistem tata kehidupan tidak pernah berjalan dengan wajarnya.

Bangsa ini semestinya bisa bersila, duduk melingkar bersama-sama, berhadapan satu sama lainnya agar bisa membelakangi dunia, sejenak menomor duakan persoalan-persoalan agar tidak diperbudak oleh persoalan-persoalan. Agar bangsa ini bisa guyub. Saling bertatapan satu sama lain, saling menyapa membicarakan setiap persoalannya dengan bermusyawarah untuk mencapai kemufakatan bersama. Agar bangsa ini tidak memelihara rasa senang dan rasa tidak senang terhadap sesuatu. Bangsa ini mesti menghargai setiap proses, bukannya melihat sebuah hasil baik dan buruk. Bangsa ini tidak boleh memelihara kebencian terhadap apapun, sudah semestinya bangsa ini bangsa yang bisa mengibarkan merah putihnya kepada segenap tumpah darah rakyatnya, dan bhineka tunggal ika menjadi cita-cita seruan bersama.

Sampai akhirnya aku harus menyudahi tulisan ini dan kembali ke dalam bangsa yang repot. Ada skripsi yang tengah menanti untuk diselesaikan, dan mungkin juga seorang perempuan, bahkan kopi hangat dan sebatang cerutu. Dan untuk bangsaku yang repot, kelak aku beserta anak cucuku ingin melihat bangsaku sudah tidak menjadi bangsa yang tidak repot lagi. Semoga saja. Aku selalu mendoa untuk bangsaku. Salam hormat.

Paris Van Java Januari 2008

-HF-

(Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Mingguan Jumpa Pos edisi Nomor 42 Tahun XII. 30-4 Februari)